Iklan

Pengantar Jenazah

Lapmi Ukkiri
03 March 2017
Last Updated 2020-06-23T04:24:27Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini

Oleh: Kanda Zulkifli

Siang melahap hamparan luas berbukit. Terik surya yang pongah tidak akan merelakan makhluk apapun menampakkan diri tepat di bawah pantauannya yang begitu membakar. Bahkan gumpalan awan enggan mampir sejenak melepas peluh. Langit membentang bak kanvas buram yang sepanjang hari hanya dipandangi pelukis.

Kendaraan-kendaraan berat melintasi jalan, membelah kompleks pemakaman yang terpisah. Setidaknya ada empat kompleks pemakaman yang berbeda. Latar belakang agama dan keturunan adalah sekat yang memisahkan kompleks yang satu dengan yang lain. Kompleks kuburan islam berdampingan dengan kompleks kuburan kristen. Di seberang jalan, kompleks kuburan keturunan Tionghoa berbatasan dengan kuburan darah bangsawan.

Sebuah gazebo luas berdiri di tengah ratusan artefak indah peristirahatan keturunan Cina. Tempat favorit pasangan-pasangan muda yang dilanda rindu kepepet. Tak akan mereka ke kompleks di seberang jalan sana. Kesan angker di kompleks pemakaman pribumi jauh lebih besar dengan pohon tua yang tinggi dan tak terawat.

Kicauan burung dan tawa centil beberapa mahasiswi yang menunggu jam kuliah sore menghiasi gang imajiku. Gang berlumpur dengan pintu-pintu yang tak berportal. Berlumpur oleh endapan ambisi yang angkuh. Sebab dunia adalah lumpur bau yang menelan siapa saja yang terperangkap oleh kenikmatannya. Dan di bawahku ada ribuan jasad yang telah terbebas dari kepongahan.

Hingga saat-saat yang tak diinginkan pun datang menghampiri. Apalagi yang datang ke pemakaman berbondong-bondong, kalau bukan kematian. Kematian adalah piala yang tidak diinginkan bagi mereka yang hidup. Penghargaan untuk mereka agar terbebas dari lumpur dunia yang menjerat tapi disambut dengan kesedihan dan kemalangan. Ketenangan mulai hilang. Burung-burung dan gadis-gadis berlarian meninggalkan tempatnya. Pasangan-pasangan muda di balik semak juga menampakkan wajahnya. Berhamburan keluar.

Sederet mobil berbagai merek dengan segala kemewahan pemiliknya mengantri memasuki area pemakaman melalui gerbang kompleks. Di belakangnya lagi ada rombongan algojo bermotor dengan ikat kepala berwarna putih. Ironis memang, sebuah kekuasaan, kejayaan, dan kekayaan dipimpin oleh sebuah ambulance.

Dua hari yang lalu telah meninggal seorang nenek bermarga Thoeng berusia delapan puluh sembilan tahun. Dia akan dimakamkan di tempat ini. Keluarga besar mengantarnya dengan mengenakan pakaian serba putih, membaluti kulitnya yang putih pula.

Belum habis rombongan mobil melewati gerbang pemakaman, dentuman mesin dari konvoi bermotor terdengar dari kejauhan. Seluruh pengantar si nenek memanjangkan lehernya mengikuti sumber suara yang mengaum-ngaum itu. Salah seorang dari konvoi itu mengibarkan bendera putih. Satu persatu menyalip kendaraan-kendaraan yang masih berada di luar area pemakaman, menuju pemakaman sebelah yang hanya dibatasi oleh pagar besi. Kemacetan tak terelakkan. Mobil jenazah yang mengangkut jenazah Daeng Jarung terhalangi oleh mobil-mobil kerabat Thoeng yang belum sempat naik ke areal pemakaman cina. 

Matahari yang seterik ini ternyata tidak menghalangi rombongan jenazah lain yang berjalan kaki dari arah utara. Ratusan warga dari laki-laki maupun ibu-ibu mengantarkan jenazah Usman. Derap langkah yang cepat dan pasti seperti truk pengangkut pasir yang setiap detik melintasi jalan ini membuat siapapun yang menghalang akan tergilas. Namun di depan gerbang pemakaman umum motor-motor milik rombongan jenazah Daeng Jarung terparkir tak beraturan hingga menutupi jalan masuk ke dalam pemakaman umum.

Suasana mulai mencekam. Matahari begitu panas, melelehkan rasa sabar dan mendidih di dalam dada. Tanpa banyak kata, motor-motor itu diangkat lalu dibuang seperti karung beras, disingkirkan dari pintu pemakaman. Umpatan ringan keluar dari mulut rombongan terakhir. mengundang perhatian rombongan yang lain, terutama mereka yang motor-motornya dibuang seperti rongsokan.

Dua orang polisi yang mengawal keluarga Thoeng tampak kebingungan. Di satu sisi mereka mengatur lalu lintas yang merupakan biang kerok kerusuhan. Di sisi lain mereka berusaha menengahi percekcokan yang terlanjur memanas. Namun keduanya juga tidak boleh lupa bahwa tugas mereka di tempat ini adalah menjamin keamanan keluarga yang memesannya.

Hingga dari sudut tidak terduga seorang dari rombongan pejalan kaki memukul salah seorang rombongan Daeng Jarung. Aksi saling pukul pun terjadi. Teriakan dari ibu-ibu bersahut-sahutan. Anak-anak berhamburan. Orang-orang dari berbagai arah berlarian menuju sumber jeritan. Kecuali rumbongan Thoeng, mereka berkumpul di gazebo. Rasa duka mendalam seketika berubah menjadi ketakutan yang teramat sangat.

Di balik kegaduhan, terdengar lantang suara Basri melerai rombongan. Juga seorang lagi dari kubu Daeng Jarung, Daeng Liwang namanya, meminta anak-anaknya mundur. Kekacauan itu tiba-tiba berhenti. Dua polisi pengawal tadi pura-pura tidak tahu apa-apa. Mereka hanya fokus pada sebuah mobil yang berada paling belakang dari rombongan Thoeng. Pengemudinya agak canggung memutar mobilnya setelah dikagetkan oleh konvoy motor karena sebelumnya mobil itu menghalangi ambulance yang mengangkut jenazah Daeng Jarung.

Perlahan kekacauan itu mereda.

“Kau kenalji siapa yang meninggal itu?” Daeng Liwang dengan sarung sa’be-nya yang silau menghampiri basri.

Janganki begitu karaeng, pak Usman itu warga sini”

Biarpun warga sini, tapi nenek-nenekmu semua itu pernah dikasih tanah dan sawah sama keluargaku”

Tapi kami juga punya kewajiban untuk memakamkan warga kami karaeng jika ada yang meninggal”

“Tidak bisa begitu, rombonganku sudah dihalang-halangi sama Cinayya, sekarang kau ajak lagi berkelahi anak-anakku”

“Berarti Cinayya yang salah, bukan wargaku”

Dari kejauhan, Basri dan Daeng Liwang menunjuk ke arah rombongan Thoeng di gazebo, lalu seluruh mata tersorot ke rombongan itu. ketakutan menghampiri mereka. Sebagai anak termuda dan berhasil di antara ketujuh bersaudara, Hendrik menenangkan rombongannya dengan membisikkan sesuatu ke algojo yang sengaja dia sewa. Ia menelan ludah dalam-dalam. Sebuah memori tentang bengisnya orang-orang pribumi pada peristiwa 97 akan kembali tampak di pelupuk matanya. Yang dia tahu saat ini ada tiga puluh marga Thoeng akan punah sekejap mata setelah terjebak di kompleks pemakaman keluarganya.

Preman bayaran Hendrik memanggil kawan-kawannya yang berjumlah sekitar dua puluhan, mendatangi Basri dan Liwang. Mereka rata-rata berpostur tinggi besar. Terjadi perdebatan di antara ketiganya yang cukup panjang.

Namun diluar dari pantauan mereka, tiba-tiba salah seorang pemuda berteriak. “Niba’ji Deng Liwang”

Seperti sekumpulan anjing liar yang berebut daging sekerat, ratusan orang berkejaran di areal kompleks kuburan cina. Tak ada yang sanggup membendungnya. Dua polisi yang tadinya pura-pura tidak tahu akhirnya mengambil sikap dengan melepas tembakan ke udara. Namun itu sia-sia. Mereka sudah kehilangan rasa takut. Perempuan dan anak-anak bersembunyi di dalam mobil. Hendrik dan kerabat laki-laki pun ikut mengimbangi kekuatan prajurit-prajuritnya. Semuanya terlibat dalam perkelahian berimbang, tanpa sekutu, tanpa senjata, dan tanpa lemparan batu.

Kegaduhan dimana-mana. Orang-orang saling kejar, saling hantam, dan tak ada yang mengalah. Sampai sebuah panggilan dari pemakaman umum menyudahi perkelahian. Ternyata prosesi pemakaman jenazah Usman sudah selesai. Rombongan warga menarik diri. Bersamaan dengan itu rombongan Daeng Jarung juga tidak lagi melanjutkan perkelahian dan menuju kepemakaman keluarga. Para algojo dan rombongan Hendrik ditinggal dalam keadaan babak belur.

Satu persatu warga yang kesakitan meninggalkan tempat pemakaman umum. Tak lama kemudian rombongan motor yang wajahnya penuh lebam juga meninggalkan pemakaman keluarga. Berselang setengah jam, pun rombongan Hendrik berpamitan dengan sang ibu yang telah beristirahat dengan tenang.

Awan-awan kecil sejenak meredupkan cahaya matahari. Angin perlahan menghembus. Sepasang burung gereja mulai terdengar bermain di atap gazebo. Nisan yang berderet dan ranting yang berderit kembali menemaniku menikmati rasa damai dan sunyi.
                                                                                                                       

                                                                                                                            Yogyakarta, 2013





iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl