masukkan script iklan disini
Siang
melahap hamparan luas
berbukit. Terik surya yang pongah
tidak akan merelakan makhluk apapun menampakkan diri tepat di bawah pantauannya
yang begitu membakar. Bahkan gumpalan awan enggan mampir sejenak
melepas peluh. Langit membentang bak kanvas buram yang sepanjang hari hanya
dipandangi pelukis.
Kendaraan-kendaraan
berat melintasi jalan, membelah kompleks pemakaman yang terpisah. Setidaknya
ada empat kompleks pemakaman yang berbeda. Latar belakang agama dan
keturunan adalah
sekat yang memisahkan kompleks yang satu dengan yang lain. Kompleks kuburan
islam berdampingan dengan kompleks kuburan kristen. Di seberang jalan, kompleks
kuburan keturunan Tionghoa
berbatasan dengan kuburan darah bangsawan.
Sebuah
gazebo luas berdiri di tengah ratusan artefak indah peristirahatan keturunan Cina. Tempat favorit pasangan-pasangan
muda yang dilanda rindu kepepet. Tak akan mereka ke kompleks di seberang jalan
sana. Kesan angker di kompleks pemakaman pribumi jauh lebih besar dengan pohon
tua yang tinggi dan tak terawat.
Kicauan
burung dan tawa centil beberapa mahasiswi yang menunggu jam kuliah sore
menghiasi gang imajiku. Gang berlumpur dengan pintu-pintu yang tak berportal. Berlumpur oleh endapan
ambisi yang angkuh. Sebab dunia adalah
lumpur bau yang menelan siapa saja yang terperangkap oleh kenikmatannya. Dan di
bawahku ada ribuan jasad yang telah terbebas dari kepongahan.
Hingga
saat-saat yang tak diinginkan
pun
datang menghampiri. Apalagi yang
datang ke pemakaman berbondong-bondong, kalau bukan kematian.
Kematian adalah piala yang tidak diinginkan bagi mereka yang
hidup. Penghargaan untuk mereka agar terbebas dari lumpur dunia yang menjerat
tapi disambut dengan kesedihan dan kemalangan. Ketenangan mulai hilang.
Burung-burung dan gadis-gadis berlarian meninggalkan tempatnya.
Pasangan-pasangan muda di balik semak juga menampakkan wajahnya. Berhamburan keluar.
Sederet
mobil berbagai merek dengan segala kemewahan pemiliknya mengantri memasuki area
pemakaman melalui gerbang kompleks.
Di
belakangnya lagi ada rombongan algojo bermotor dengan ikat kepala berwarna
putih. Ironis memang, sebuah kekuasaan,
kejayaan, dan kekayaan dipimpin oleh sebuah
ambulance.
Dua
hari yang lalu telah meninggal seorang
nenek bermarga Thoeng berusia delapan puluh sembilan tahun. Dia akan dimakamkan
di tempat ini. Keluarga besar
mengantarnya
dengan mengenakan pakaian serba putih, membaluti kulitnya yang putih pula.
Belum
habis rombongan mobil melewati gerbang pemakaman, dentuman mesin dari konvoi
bermotor terdengar dari kejauhan. Seluruh pengantar si nenek memanjangkan
lehernya mengikuti sumber suara yang mengaum-ngaum itu. Salah seorang dari
konvoi itu mengibarkan bendera putih. Satu persatu menyalip kendaraan-kendaraan
yang masih berada di luar area pemakaman, menuju pemakaman sebelah yang hanya
dibatasi oleh pagar besi. Kemacetan tak terelakkan. Mobil jenazah yang
mengangkut jenazah Daeng Jarung terhalangi oleh mobil-mobil kerabat Thoeng yang
belum sempat naik ke areal pemakaman cina.
Matahari
yang seterik ini ternyata tidak menghalangi rombongan jenazah lain yang
berjalan kaki dari arah utara. Ratusan warga dari laki-laki maupun ibu-ibu
mengantarkan jenazah Usman. Derap langkah yang cepat dan pasti seperti truk
pengangkut pasir yang setiap detik melintasi jalan ini membuat siapapun yang
menghalang akan tergilas. Namun di depan gerbang pemakaman umum motor-motor
milik rombongan jenazah Daeng Jarung terparkir tak beraturan hingga menutupi
jalan masuk ke dalam pemakaman umum.
Suasana
mulai mencekam. Matahari begitu panas, melelehkan rasa sabar dan mendidih di
dalam dada. Tanpa banyak kata, motor-motor itu diangkat lalu dibuang seperti
karung beras, disingkirkan dari pintu pemakaman. Umpatan ringan keluar
dari mulut rombongan terakhir. mengundang perhatian rombongan yang lain,
terutama mereka yang motor-motornya dibuang seperti rongsokan.
Dua
orang polisi yang mengawal keluarga Thoeng tampak kebingungan. Di satu sisi
mereka mengatur lalu lintas yang merupakan biang kerok kerusuhan. Di sisi lain
mereka berusaha menengahi percekcokan yang terlanjur memanas. Namun keduanya
juga tidak boleh lupa bahwa tugas mereka di tempat ini adalah menjamin keamanan
keluarga yang memesannya.
Hingga
dari sudut tidak terduga seorang dari rombongan pejalan kaki memukul salah
seorang rombongan Daeng
Jarung. Aksi saling pukul pun terjadi. Teriakan dari ibu-ibu bersahut-sahutan.
Anak-anak berhamburan. Orang-orang dari berbagai arah berlarian menuju sumber
jeritan. Kecuali rumbongan Thoeng, mereka berkumpul di gazebo. Rasa duka mendalam
seketika berubah menjadi ketakutan yang teramat sangat.
Di
balik kegaduhan, terdengar
lantang
suara Basri melerai rombongan. Juga seorang lagi dari kubu Daeng Jarung, Daeng
Liwang namanya, meminta anak-anaknya mundur. Kekacauan itu tiba-tiba berhenti.
Dua polisi pengawal
tadi pura-pura tidak tahu apa-apa. Mereka hanya fokus pada sebuah mobil yang
berada paling belakang dari rombongan Thoeng. Pengemudinya agak canggung memutar
mobilnya setelah dikagetkan oleh konvoy motor karena sebelumnya mobil itu
menghalangi ambulance yang mengangkut jenazah Daeng Jarung.
Perlahan
kekacauan itu mereda.
“Kau
kenalji siapa yang meninggal itu?”
Daeng Liwang dengan sarung sa’be-nya yang silau
menghampiri basri.
“Janganki
begitu karaeng, pak Usman itu warga sini”
“Biarpun warga sini, tapi
nenek-nenekmu semua itu pernah dikasih tanah dan sawah sama keluargaku”
“Tapi kami juga punya
kewajiban untuk memakamkan warga kami karaeng jika ada yang meninggal”
“Tidak
bisa begitu, rombonganku sudah dihalang-halangi sama Cinayya,
sekarang kau ajak lagi berkelahi anak-anakku”
“Berarti Cinayya
yang salah, bukan wargaku”
Dari
kejauhan, Basri dan Daeng
Liwang menunjuk ke arah rombongan Thoeng di gazebo, lalu seluruh mata tersorot
ke rombongan itu. ketakutan menghampiri mereka. Sebagai anak termuda dan
berhasil di antara ketujuh
bersaudara, Hendrik menenangkan rombongannya dengan membisikkan sesuatu ke
algojo yang sengaja
dia sewa. Ia menelan ludah dalam-dalam. Sebuah memori tentang bengisnya
orang-orang pribumi pada peristiwa 97 akan kembali tampak di pelupuk matanya. Yang
dia tahu saat ini ada tiga puluh marga Thoeng akan punah sekejap mata setelah
terjebak di kompleks pemakaman keluarganya.
Preman
bayaran Hendrik memanggil kawan-kawannya yang berjumlah sekitar dua puluhan,
mendatangi Basri dan Liwang. Mereka rata-rata berpostur tinggi besar. Terjadi
perdebatan di antara
ketiganya yang cukup panjang.
Namun
diluar dari pantauan mereka,
tiba-tiba
salah seorang pemuda berteriak. “Niba’ji
Deng Liwang”
Seperti
sekumpulan anjing liar yang berebut daging sekerat, ratusan orang berkejaran di
areal kompleks kuburan cina. Tak ada yang sanggup membendungnya. Dua polisi
yang tadinya pura-pura tidak tahu akhirnya mengambil sikap dengan melepas
tembakan ke udara. Namun itu sia-sia. Mereka sudah kehilangan rasa takut. Perempuan
dan anak-anak bersembunyi di dalam mobil. Hendrik dan kerabat laki-laki pun
ikut mengimbangi kekuatan prajurit-prajuritnya. Semuanya terlibat dalam
perkelahian berimbang, tanpa sekutu, tanpa senjata, dan tanpa lemparan batu.
Kegaduhan
dimana-mana. Orang-orang saling kejar, saling hantam, dan tak ada yang
mengalah. Sampai sebuah panggilan dari pemakaman umum menyudahi perkelahian.
Ternyata prosesi pemakaman jenazah Usman sudah selesai. Rombongan warga menarik
diri. Bersamaan dengan itu rombongan Daeng
Jarung juga tidak lagi melanjutkan perkelahian dan menuju kepemakaman keluarga.
Para algojo dan rombongan Hendrik ditinggal dalam keadaan babak belur.
Satu
persatu warga yang kesakitan meninggalkan tempat pemakaman umum. Tak lama
kemudian rombongan motor yang wajahnya penuh lebam juga meninggalkan pemakaman
keluarga. Berselang setengah jam, pun rombongan Hendrik berpamitan dengan sang
ibu yang telah beristirahat dengan tenang.
Awan-awan
kecil sejenak meredupkan cahaya matahari. Angin perlahan menghembus. Sepasang burung
gereja mulai terdengar bermain di atap gazebo. Nisan yang berderet dan ranting
yang berderit kembali menemaniku
menikmati
rasa damai dan sunyi.
Yogyakarta,
2013

