Iklan

Siapa Itu Mahasiswa?

Lapmi Ukkiri
11 March 2017
Last Updated 2020-06-22T12:56:27Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini
Ilustrasi: Net.

Di sela-sela kesenyapan masih terdapat gaung bagi suara-suara lirih keluarga korban, penyintas dan mereka yang tertindas. Yang tersisa itu nantinya akan mengejawantah menjadi sebuah pengingat bahwa kebenaran belum lagi tuntas diungkapkan, keadilan belum lagi ditegakkan, korban gusur belum direhabilitasi dan negara masih memalingkan pandangannya maka mereka akan mengisi penuh setiap ruas jalan, membakar pabrik-pabrik kaum borjuis dan mengambil alih faktor produksi serta menduduki gedung-gedung parlemen hingga pada saatnya struktur kekuasaan yang menindas hancur beserta dengan selingkuhannya. Lalu bung Abimana menutup suratnya dengan kalimat “harapan itu ada di tangan mahasiswa” 
*** 
Semilir angin yang berhembus di sepertiga hari nampaknya tak mampu mengantarkan dedaunan keriput yang teramat rindu pada pangkuan sang bahan mentah penciptaan nabi Adam. Tiupannya yang lembut sedikitpun tak bisa menenangkan pikiranku. Pikiran akan kedatangan tukang pos menyusuri lorong jalan Potlot dan berhenti pas di depan kediamanku, hendak mengantarkan surat. Suara nyaring tangisan Kemal akibat kelerengnya habis setelah memainkan permainan gundu ─salah satu macam permainan kelereng─ juga tak mampu mengalihkan fokusku ke ujung lorong, menanti pak Harto yang bertugas di Kecamatan Palung Kandao untuk mengantarkan suratku dari Mockba, Rusia.

Mungkin agak terdengar asing bagi kebanyakan orang atas aktivitas surat menyurat yang kulakukan melalui perantara kertas dalam amplop bercap perangko di tengah kemajuan teknologi kekinian sebagai infrastruktur global. Hal tersebut turut mengundang rasa penasaran pak Harto, tepatnya dua minggu lalu, ia seakan mengejek dengan melabeli aku sebagai seorang gaptek, gagap teknologi. Mengapa tidak menggunakan e-mail saja dalam mengirim surat, katanya kepadaku. Dengan menggunakan e-mail proses surat menyurat akan lebih efektif dan efisien, lanjutnya. Bahkan pak Harto dengan polos mengatakan bahwa kalau aku tidak tahu menggunakan e-mail, ia bersedia mengajarkan bagaimana cara menggunakannnya.

“Sebenarnya kenapa kau masih saja terus berkirim surat, padahal kan kau tahu ada cara yang lebih praktis dan murah, apalagi kau ini saling berkirim surat dengan orang yang sangat jauh, sudah ribet, suratnya kan lama sampai ke tanganmu. Kalau kamu tidak tahu menggunakan e-mail, besok sore selesai aku mengirim semua paketan surat, aku akan ke sini mengajarimu bagaimana cara menggunakan e-mail, bagaimana?”

“Terima kasih pak, sebenarnya aku tahu menggunakan e-mail, tapi aku lebih suka menggunakan jas pos dalam surat menyurat dengan kawanku ini sekalipun membutuhkan waktu yang relatif lama dibanding jika menggunakan e-mail”

“Aneh juga kamu yah. Aku kira kamu tidak tahu cara menggunakan e-mail”

“Yah sebenarnya bapak sedikit aneh juga. Mengatakan surat menyurat itu ribet dan sampai mau rela mengajariku beralih ke e-mail. Kalau semua orang beralih, surat siapa lagi yang ingin bapak antarkan?”

Yah, sebenarnya aku memang tahu menggunakan e-mail, tetapi khusus untuk surat menyurat dengan bung Abimana yang sekarang kuliah di Universitas Persahabatan Rakyat, Rusia dan terlibat aktif dalam Partai Komunis Federasi Rusia atau PKFR kami lebih memilih menggunakan jasa pos. Penggunaan jasa pos ini merupakan keinginan dari bung Abimana. Menurutnya akan lebih aman ketika menyurat lewat pos daripada lewat e-mail saat ini. Katanya rentan dari penyadapan para intelijen jika menggunakan e-mail, apalagi beberapa bulan terakhir agenda revolusi lewat gelombang demonstrasi besar-besaran untuk menurunkan Tsar dari tampuk kekuasaannya gencar dipelopori oleh partai Komunis Federasi Rusia. Apalagi lima surat terakhir berisikan agenda serta strategi partai dalam melancarkan gerakan revolusi untuk meruntuhkan kuasa Tsar.

Suara klakson sepeda motor tiba-tiba terdengar jelas di telingaku. Sontak suara itu memadamkan kegusaran serta merobek keresahan yang menjangkiti pikiranku setidaknya 8 jam terakhir. Keresahan yang barang kali hadir saat di mana aku mendapat kabar dari bung Abimana bahwa ia telah mengirimkan suratnya beberapa hari yang lalu. Surat yang kali ini berisi analisis terbaru tentang syarat bagaimana revolusi dapat berlangsung serta elemen masyarakat mana yang akan menjadi ujung tombak dari gerakan puncak revolusi yang berlangsung dalam waktu dekat di Rusia.

Analisi demikian begitu penting bagiku saat ini, sebab hal itu akan menjadi wacana terbaru dalam konstruksi pengetahuanku dan kawan-kawan seperjuangan yang masih meyakini revolusi sebagai jalan terbaik dalam merombak struktur kekuasaan yang tengah berlangsung dalam negeri, yang menurut kajian kami, tak jauh berbeda dengan pelaksanaan kekuasaan yang menindas seperti di Rusia oleh Tsar.

Dari balik jendela terlihat seorang pria dengan postur tubuh mirip Il Postino, tukang pos Italia dalam film Il Postino: The Postman, turun dari sepeda motornya. Tak salah lagi, dia adalah pak Harto tukang pos yang menguji kesabaranku menantikan kedatangannya sepanjang hari ini. Karena tak sabar ingin segara membaca surat dari bung Abimana kali ini, akupun bergegas menghampiri pak Harto di luar tanpa menunggu ia masuk dan mengetuk pintu seperti biasanya. Setelah menerima surat dari pak Harto, aku langsung minta tanda terima untuk ku tanda tangani. Hal ini ku lakukan karena ingin menghindari pertanyaan-pertanyaan yang biasa dilontarkan pak Harto seputaran alasan menyurat lewat pos di abad ke-21.

“Pak, mana tanda terimanya? Sini aku tanda tangani.”

“Kamu sepertinya buru-buru sekali, seperti dapat kiriman surat dari pacar saja kelakuanmu ini.”

“Aku lagi memasak di dalam pak makanya aku buru-buru. Oh iya, ini uang tipnya pak. Kalau begitu aku masuk dulu yah pak. Terima kasih”

“Oh, baiklah kalau begitu.”

Setelah selesai tanda tangan dan uang tipnya diambil oleh pak Harto, aku bergegas menuju ruang baca. Tempat paling tepat ketika ingin fokus mendengar cerita bung Abimana lewat setiap penggal wiracerita dalam suratnya. Sambil menghisap kretek, amplop surat yang masih tersegel dengan perangko bergambar matryoshka dan alphabet sirilik. Aku membukanya secara perlahan. Kali ini aku membaca surat bung Abimana sendiri, karena kawan-kawan yang lain kebetulan ada urusan di luar. Setelah menyeruput dalam-dalam kopi hitam sebagai instrumen terpenting selain kretek saat berhadapan dengan bacaan, aku mulai membaca isi surat bung Abimana.
***
Seperti biasa, bung Abimana memulai dengan menuliskan kalimat pembuka dengan bahasa Rusia “длительный срок службы борьбы” yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan “Panjang Umur Perjuangan.” Pada paragraf pertama bung Abimana menuliskan tentang bagaimana keadaan semakin sulit untuk melancarkan sebuah upaya revolusi. Gerak sejarah kapitalisme tampil meliuk-liuk dengan performa yang senantiasa bergerak mengadaptasikan kebutuhan umat manusia pada zaman dan situasi lingkungannya, serta mampu menjawab kemungkinan-kemungkinan keruntuhannya dengan menghadirkan demokrasi ekonomi dan politik sebagai bentuk keinginan umat manusia yang paling mutakhir, sekalipun itu demokrasi yang semu. Bahkan saat ini para aktor kapitalisme sengaja berani membiayai dan merekayasa negara. Tujuannya adalah untuk mengatasi kemungkinan terjadinya disintegrasi sistem sosial dalam struktur masyarakat yang diakibatkan oleh kontradiksi-kontradiksi dalam tubuh kapitalisme itu sendiri.

Kemudian pada paragraf selanjutnya, dengan bahasa yang merepresentasikan kesedihannya, ia menggambarkan bagaimana kondisi rakyat murba semakin memprihatikan tak ada lagi tempat meminta bantuan. Mereka bahkan tak berdaya melawan kolaborasi aktor kapitalisme dengan negara bak kolaborasi tak terkalahkan captain Tsubasa Oozora dengan Taro Misaki dalam seri manga karangan Yoichi Takahashi. Kaum proletariat yang menurut Marx, dalam manifesto partai komunis, kelak akan menjadi kelas revolusioner yang membebaskan, kelas yang nantinya menggenggam hari depan dalam tangannya, nyatanya masih jauh dari realita.

Sejak kemajuan teknologi sebagai infrastruktur paling mutakhir membuat nilai tawar buruh melemah. Hal ini membuat mereka takut menghadirkan perlawanan atas penghisapan yang mereka alami. Kaum borjuis kecil semakin terdesak ke pinggir dan tak memiliki daya untuk berbuat. Petani yang tanahnya dirampas lewat politik perampasan tanah yang dijalankan oleh negara juga tak mampu berbuat apa-apa dan tak ada waktu baginya untuk menyuarakan haknya sebagai warga negara sebab ia tetap harus bekerja walau sang tuan tanah memberikan upah yang hanya cukup untuk membuat ia dan keluarganya tetap hidup esok hari. Para nelayan pun memiliki cerita yang sama, ia dan keluarganya masih mengalami kekurangan gizi namun tak sanggup menyuarakan kesengsaraannya sebab diancam bahan bakar sebagai syarat agar ia tetap dapat berlayar akan dicabut subsidinya ketika ia melakukan hal demikian. Lalu rakyat miskin kota masih pun tak berdaya melawan aparat negera dan harus terpaksa menerima kenyataan bahwa tempat tinggalnya harus digusur.

Lagi dan lagi mereka pun tidak bisa berontak sebab ia sibuk mencari tempat baru untuk melindungi bayinya dari panas mentari serta dinginnya angin malam sebelum ia dan keluarganya betul-betul tak punya tempat lain kecuali liang lahat.

Dalam paragraf terakhir suratnya, bung Abimana menyampaikan bahwa masih tetap ada harapan akan terwujudnya kehidupan yang berdiri diatas pondsasi keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat murba. Di sela-sela kesenyapan masih terdapat gaung bagi suara-suara lirih keluarga korban, penyintas dan mereka yang tertindas. Yang tersisa itu nantinya akan mengejawantah menjadi sebuah pengingat bahwa kebenaran belum lagi tuntas diungkapkan, keadilan belum lagi ditegakkan, korban gusur belum direhabilitasi dan negara masih memalingkan pandangannya maka mereka akan mengisi penuh setiap ruas jalan, membakar pabrik-pabrik kaum borjuis dan mengambil alih faktor produksi serta menduduki gedung-gedung parlemen hingga pada saatnya struktur kekuasaan yang menindas hancur beserta dengan selingkuhannya. Lalu bung Abimana menutup suratnya dengan kalimat, “harapan itu ada di tangan mahasiswa.”
***
Di tangan mahasiswa katanya.

Perkataan bung Abimana pada kalimat terakhir dalam suratnya layaknya air bah pada zaman Nuh keras menghujam nalar berpikirku hingga aku tersadar bahwa semua wacana yang terdapat di dalamnya lenyap seketika tergantikan oleh kalimat terakhir itu. Pertanyaan akan siapa itu mahasiswa kini memenuhi alam pikirku. Kretek dan kopi hitam yang sudah habis juga sukses mengembalikan aku pada beranda kegelisahan. Pertanyaan mengenai siapa itu mahasiswa terus menyeruak dan berontak untuk mendapat jawaban.

Pertanyaan tersebut yang mengisyaratkan adanya sebuah jawaban membawaku pada keputusan untuk meninggalkan rumah dan mencari jawaban atas pertanyaan siapa itu mahasiswa ─pembawa obor kebebasan bagi rakyat yang dilemahkan─ pada setiap orang yang aku jumpai.

Dengan pertanyaan yang semakin besar menundukkan nalarku, aku bergegas mengambil kunci sepeda motor dan mulai jalan mencari jawaban kepada setiap orang yang dapat meredam keresahan ku atas pertanyaan besar tersebut. Pikiranku terjatuh pada warung pak Hardiman selain untuk membeli sebungkus kretek juga karena pak Hardiman termasuk dalam golongan borjuis kecil. Kendaraan pun aku pacu melewati lorong-lorong jalan Potlot. Belok kanan di pertigaan Mesjid al-Mukmin lalu belok kiri setelah lorong ke tiga. Setelah melewati Sekitar 70 meter dari jalan masuk lorong, aku sampai juga di warung pak Hardiman. Segera aku turun dari sepeda motor dan menghampiri warung pak Hardiman

“Assalamualaikum. Pak Hardiman... Pak Hardiman... Pak.” Meski tidak perlu, aku memanggil beliau dengan agak berteriak.

“Walaikumsalam. Kenapa kamu teriak-teriak, ada apa Oka?” Sepertinya karena keseringan belanja di warungnya, pak Hardimanpun tahu namaku.

“Seperti biasa pak.”

“Ini rokoknya Oka.” tanpa aku tanya pak Hardiman langsung memberikan rokok sesuai dengan kemauanku. Sepertinya dia hapal betul apa yang aku inginkan.

“Ini uangnya pak. O iya pak, aku mau bertanya, bapak kenal atau pernah mendengar siapa itu mahasiswa?”

Pak Hardiman dengan raut wajah yang bingung. “Apa? Kamu kerasukan setan apa? Atau kamu sudah gila yah? Sana, kamu berhenti baca buku-buku filsafat!” mungkin anaknya yang satu fakultas denganku yang memberitahukan bahwa aku banyak mengoleksi buku-buku filsafat.

“Wah, Pak Hardiman bercanda yah? Mana mungkin aku gila. Aku bertanya siapa itu mahasiswa yang nanti akan memperjuangkan kesejahteraan bapak.” Karena merasa tak mendapat jawaban, akhirnya aku putuskan beranjak dari tempat Pak hardiman menuju pasar tradisional di ujung lorong. Pikirku di sana kemungkinan besar aku mendapat jawaban sebab banyak kaum borjuis kecil berjualan di sana.

Setelah membakar kretek, aku menyalakan sepeda motor dan melaju menuju pasar yang jaraknya kurang lebih 50 meter dari warung pak Hardiman. Tak sampai satu menit aku sudah sampai di pasar. Aku lalu memarkir motor dan selanjutnya berjalan masuk ke dalam pasar. Setiap orang yang kujumpai, aku jejali mereka dengan pertanyaan siapa itu mahasiswa.

Mulai dari pengunjung pasar, para pedagang, satpol PP yang berjaga maupun tukang parkir tempat aku memarkirkan sepeda motorku. Namun tak satupun di antara mereka yang memiliki jawaban atas pertanyaanku. Aku malah diusir oleh satpol PP yang bertugas di situ. Katanya aku mengganggu ketertiban dan kenyamanan pasar.

Kembali ke parkiran, aku melihat seorang nelayan yang hendak membawa hasil lautnya untuk dijual di dalam pasar. Segera aku menghampirinya, tanpa basa-basi aku langsung menyapanya dengan pertanyaan yang menguasai kepalaku.

“Apakah bapak kenal siapa itu mahasiswa?.”

Dengan wajah acuh, nelayan itu menjawab, “kamu ngomong apaan? Kamu jangan ganggu aku. Aku buru-buru sebab ikan yang tak seberapa ini harus segera kujual ke pasar. Kalau tidak, anak dan istriku mau makan apa? Kamu mau kasih makanan kepada kami? hah kau ini!.” Nelayan itu langsung pergi meninggalkan aku dengan misteri yang belum terpecahkan.
Dengan rasa kecewa bercampur keresahan yang makin menggila serta desakan akan jawaban siapa itu mahasiswa, kini bersatu padu membajak alam pikirku saat ini. Aku putuskan meninggalkan pasar dan mencari tempat lain di mana pertanyaan itu bisa terjawab. Dari ujung lorong aku ambil kiri menuju jalan poros Perjuangan. Lima menit mengendarai sepeda motor, aku terpaksa berhenti sebab lampu lalu lintas memberikan isyarat berhenti bagi semua kendaraan yang melaju dari arah keberangkatanku. Saat menunggu lampu hijau menyala sebagai tanda untuk jalan, pandanganku tertuju pada sosok lelaki paruh baya dengan seragam lengkap berdiri tegap sambil memperhatikan lalu lintas. Akupun berpikir menayakan siapa yang dimaksud oleh bung Abimana pada kalimat terakhir dalam suratnya itu. Ya! Aku masih penasaran setengah mampus. Lampu hijau pun menyala. Semua kendaraan mulai melaju secara perlahan tak terkecuali sepeda motorku. Kurang lebih lima belas meter, aku menghentikan laju kendaran dan memarkirnya persis di depan pos lalu lintas. Aku berjalan menuju bapak berseragam yang berdiri menghadap ke arah para pengendara. Dengan sedikit basa-basi, aku kemudian mempertanyakan hal yang sama kepada bapak ini.

“Assalamualaikum pak. Bapak mau air minum?”

Dengan suara datar dan tegas, “terima kasih atas tawarannya, dik. Tapi saya masih punya. Itu sana di pos.” sambil tangannya menunjuk ke arah pos lalu lintas.

“Mohon maaf sebelumnya, Pak. Aku mau bertanya, kan bapak sering saya lihat berdiri di sini, apakah bapak kenal siapa itu mahasiswa atau mungkin bapak pernah melihatnya melintas di jalan ini?”

“Kamu ini bodoh, sudah gila atau mau mempermainkan saya. Ya tentulah saya kenal. Kan mereka yang sering membuat kemacetan di jalan pada saat konvoi atau menutup jalan pada saat melakukan demo.” Belum sempat bertanya balik karena belum terlalu detail penjelasan mengenai siapa itu mahasiswa, bapak itu malah pergi. Ia meniup peluit dan menahan pengendara sepeda motor yang melintas tanpa mengenakan helm. “Saya sedang sibuk dik, tolong kamu pergi saja.”

Warna jingga langit sore pertanda sinar matahari mulai kehabisan daya hari ini, namun tak sejalan dengan kepalaku yang makin mendidih sebab tak kunjung mendapat jawaban lengkap atas pertanyaanku “siapa itu mahasiswa?”. Pencarian jawaban kembali aku lanjutkan. Aku kembali mengendarai sepeda motor dan melaju ke arah jalan veteran. Angin yang bertiup menerpa wajahku sedikit memberikan kesejukan.

Sekitar setengah jam melaju tak tentu arah demi memuaskan rasa ingin tahuku, aku singgah sebentar di sebuah warung kecil di samping kedai teh instan. Aku membeli sebotol air mineral untuk membasahi kerongkonganku yang sedari tadi terus berciut menyodorkan pertanyaan yang sama. Tak jauh dariku, berdiri dua orang gadis muda mengenakan seragam putih abu-abu, satunya berambut panjang digerai dan satunya lagi berjilbab. Tanpa sengaja aku menangkap mereka sedang melihat-lihat ke arahku. “Lihat apa dik?”

“Eh tidak ada.”

“Dik, kalian tahu apa itu mahasiswa?,” mungkin saja dua gadis muda ini bisa menjawab kebingunganku.

“Mahasiswa? Pelajar tingkat perguruan tinggi kan?.” Timpal gadis berjilbab.

“Wah, aku sudah tidak sabar menjadi mahasiswa, datang ke kampus memakai baju bebas, aku mau kenalan dengan senior-senior cowok yang keren.” Kali ini dari gadis berambut panjang tergerai. Tidak menunggu sedetik pun, aku segera pergi meninggalkan kedua anak muda itu. Kacau!

***

Aku mulai berpikir bahwa bagaimana kalau pertanyaan ini aku tanyakan kepada orang-orang gila yang ada di rumah sakit jiwa. Sebab dari sekian banyak orang dan semuanya waras, tak satupun di antara mereka tahu dan bisa memberikan jawaban lengkap atas pertanyaan aku yang hanya terdiri dari tiga kata. Entah aku yang sudah mulai gila karena tak kunjung mendapat jawaban tapi tekad aku sudah bulat untuk mengunjungi salah satu rumah sakit jiwa yang berada di ujung jalan veteran.

Melewati kemacetan, berhimpit kendaraan. Di atas kendaraan melewati riuh hingar bingar jalan kota. Sesekali terlintas dalam pikiran ingin menebas lampu lalu lintas yang menghambat perjalananku sebab harus berhenti seketika lampu merah yang menyala. Sesampainya di rumah sakit jiwa Sumber Waras, sepeda motor langsung aku parkir dan langsung bergegas mencari orang gila yang akan aku jajah dengan pertanyaan siapa itu mahasiswa. Melihat tingkah laku para pasien yang mengalami gangguan jiwa ini membuat aku refleks tertawa keras dan anehnya mereka balik tertawa ke arahku seakan mereka semua menertawakanku.

Entah yang gila di sini siapa, mereka atau aku. Tanpa memperdulikan keadaan mereka yang tengah mengalami gangguan jiwa, aku menjajakan pertanyaan kepada setiap pasien yang masih beraktifitas. Namun dari beberapa orang yang aku sodorkan pertanyaan semuanya malah tertawa tidak jelas entah kenapa sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.

Kretek kembali aku bakar dengan maksud sedikit menenangkan pikiran. Kepulan asap kretek aku tenyata menarik perhatian salah satu pasien laki-laki yang kira-kira berumur 35 tahun. Ia terlihat berjalan mendekat ke arahku.

“Rokok rokok rokok rokok,” sambil mengangkat tangannya.

“Bapak mau rokok?”

Ia mengangguk sambil terus menggumamkan kata yang sama, “rokok rokok rokok rokok.”

“Ini ambil saja pak. Oh iya, bapak tahu siapa itu mahasiswa? Mereka yang katanya akan menyeret orang-orang gila di gedung parlemen sana dan membawanya ke sini. Bapak tahu?”

“Hahaha hahaha.” Pasien itu hanya tertawa.

“Kenapa ketawa, Pak? Aku bertanya, apakah bapak tahu siapa itu mahasiswa?” Tanyaku kembali kepada pasien yang tiada hentinya tertawa.

Seperti mengejek, ia menjawab seperti ini: “hahahahahaha, kamu sudah gila yah? Hahahahahaha. Kan kamu itu mahasiswa.” Terus tertawa sambil menunjuk ke arahku, seakan ingin mengatakan bahwa aku ini orang tidak waras.

“Kamu mau tahu apa itu mahasiswa?”

Sepertinya dia memang tahu jawabannya, “iya, Pak, apa itu?”

“Kamu betul-betul mau tahu mahasiswa itu apa?”, tanyanya lagi dengan tertawa.

“Iya, Pak, sudah saya bi..”

“Kamu, mau tahu? Ini jawabanku, Hahaha hahaha.” Bapak pasien sakit jiwa itu tertawa semakin kencang, berjalan berbalik dengan terhuyung-huyung, meninggalkanku dengan masih tertawa.


Samata, 5 Maret 2017

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl