masukkan script iklan disini
![]() |
| Ilustrasi: Net. |
Di sela-sela kesenyapan
masih terdapat gaung bagi suara-suara lirih keluarga korban, penyintas dan
mereka yang tertindas. Yang tersisa itu nantinya akan mengejawantah menjadi
sebuah pengingat bahwa kebenaran belum lagi tuntas diungkapkan, keadilan belum
lagi ditegakkan, korban gusur belum direhabilitasi dan negara masih memalingkan
pandangannya maka mereka akan mengisi penuh setiap ruas jalan, membakar
pabrik-pabrik kaum borjuis dan mengambil alih faktor produksi serta menduduki
gedung-gedung parlemen hingga pada saatnya struktur kekuasaan yang menindas
hancur beserta dengan selingkuhannya. Lalu bung Abimana menutup suratnya dengan
kalimat “harapan itu ada di tangan mahasiswa”
***
Semilir
angin yang berhembus di sepertiga hari nampaknya tak mampu mengantarkan
dedaunan keriput yang teramat rindu pada pangkuan sang bahan mentah penciptaan
nabi Adam. Tiupannya yang lembut sedikitpun tak bisa menenangkan pikiranku.
Pikiran akan kedatangan tukang pos menyusuri lorong jalan Potlot dan berhenti
pas di depan kediamanku, hendak mengantarkan surat. Suara nyaring tangisan
Kemal akibat kelerengnya habis setelah memainkan permainan gundu ─salah
satu macam permainan kelereng─ juga tak mampu mengalihkan fokusku ke ujung
lorong, menanti pak Harto yang bertugas di Kecamatan Palung Kandao untuk
mengantarkan suratku dari Mockba, Rusia.
Mungkin
agak terdengar asing bagi kebanyakan orang atas aktivitas surat menyurat yang
kulakukan melalui perantara kertas dalam amplop bercap perangko di tengah
kemajuan teknologi kekinian sebagai infrastruktur global. Hal tersebut turut
mengundang rasa penasaran pak Harto, tepatnya dua minggu lalu, ia seakan
mengejek dengan melabeli aku sebagai seorang gaptek, gagap teknologi. Mengapa
tidak menggunakan e-mail saja dalam mengirim surat, katanya kepadaku. Dengan
menggunakan e-mail proses surat menyurat akan lebih efektif dan efisien,
lanjutnya. Bahkan pak Harto dengan polos mengatakan bahwa kalau aku tidak tahu
menggunakan e-mail, ia bersedia mengajarkan bagaimana cara menggunakannnya.
“Sebenarnya
kenapa kau masih saja terus berkirim surat, padahal kan kau tahu ada cara yang
lebih praktis dan murah, apalagi kau ini saling berkirim surat dengan orang
yang sangat jauh, sudah ribet, suratnya kan lama sampai ke tanganmu. Kalau kamu
tidak tahu menggunakan e-mail, besok sore selesai aku mengirim semua paketan
surat, aku akan ke sini mengajarimu bagaimana cara menggunakan e-mail,
bagaimana?”
“Terima
kasih pak, sebenarnya aku tahu menggunakan e-mail, tapi aku lebih suka
menggunakan jas pos dalam surat menyurat dengan kawanku ini sekalipun membutuhkan
waktu yang relatif lama dibanding jika menggunakan e-mail”
“Aneh
juga kamu yah. Aku kira kamu tidak tahu cara menggunakan e-mail”
“Yah
sebenarnya bapak sedikit aneh juga. Mengatakan surat menyurat itu ribet dan
sampai mau rela mengajariku beralih ke e-mail. Kalau semua orang beralih, surat
siapa lagi yang ingin bapak antarkan?”
Yah,
sebenarnya aku memang tahu menggunakan e-mail, tetapi khusus untuk surat
menyurat dengan bung Abimana yang sekarang kuliah di Universitas Persahabatan
Rakyat, Rusia dan terlibat aktif dalam Partai Komunis Federasi Rusia atau PKFR
kami lebih memilih menggunakan jasa pos. Penggunaan jasa pos ini merupakan
keinginan dari bung Abimana. Menurutnya akan lebih aman ketika menyurat lewat
pos daripada lewat e-mail saat ini. Katanya rentan dari penyadapan para
intelijen jika menggunakan e-mail, apalagi beberapa bulan terakhir agenda
revolusi lewat gelombang demonstrasi besar-besaran untuk menurunkan Tsar dari
tampuk kekuasaannya gencar dipelopori oleh partai Komunis Federasi Rusia.
Apalagi lima surat terakhir berisikan agenda serta strategi partai dalam
melancarkan gerakan revolusi untuk meruntuhkan kuasa Tsar.
Suara
klakson sepeda motor tiba-tiba terdengar jelas di telingaku. Sontak suara itu
memadamkan kegusaran serta merobek keresahan yang menjangkiti pikiranku
setidaknya 8 jam terakhir. Keresahan yang barang kali hadir saat di mana aku
mendapat kabar dari bung Abimana bahwa ia telah mengirimkan suratnya beberapa
hari yang lalu. Surat yang kali ini berisi analisis terbaru tentang syarat
bagaimana revolusi dapat berlangsung serta elemen masyarakat mana yang akan
menjadi ujung tombak dari gerakan puncak revolusi yang berlangsung dalam waktu
dekat di Rusia.
Analisi
demikian begitu penting bagiku saat ini, sebab hal itu akan menjadi wacana
terbaru dalam konstruksi pengetahuanku dan kawan-kawan seperjuangan yang masih
meyakini revolusi sebagai jalan terbaik dalam merombak struktur kekuasaan yang
tengah berlangsung dalam negeri, yang menurut kajian kami, tak jauh berbeda
dengan pelaksanaan kekuasaan yang menindas seperti di Rusia oleh Tsar.
Dari
balik jendela terlihat seorang pria dengan postur tubuh mirip Il Postino,
tukang pos Italia dalam film Il Postino: The Postman, turun dari
sepeda motornya. Tak salah lagi, dia adalah pak Harto tukang pos yang menguji
kesabaranku menantikan kedatangannya sepanjang hari ini. Karena tak sabar ingin
segara membaca surat dari bung Abimana kali ini, akupun bergegas menghampiri
pak Harto di luar tanpa menunggu ia masuk dan mengetuk pintu seperti biasanya.
Setelah menerima surat dari pak Harto, aku langsung minta tanda terima untuk ku
tanda tangani. Hal ini ku lakukan karena ingin menghindari
pertanyaan-pertanyaan yang biasa dilontarkan pak Harto seputaran alasan menyurat
lewat pos di abad ke-21.
“Pak,
mana tanda terimanya? Sini aku tanda tangani.”
“Kamu
sepertinya buru-buru sekali, seperti dapat kiriman surat dari pacar saja
kelakuanmu ini.”
“Aku lagi
memasak di dalam pak makanya aku buru-buru. Oh iya, ini uang tipnya pak. Kalau
begitu aku masuk dulu yah pak. Terima kasih”
“Oh,
baiklah kalau begitu.”
Setelah
selesai tanda tangan dan uang tipnya diambil oleh pak Harto, aku bergegas menuju
ruang baca. Tempat paling tepat ketika ingin fokus mendengar cerita bung
Abimana lewat setiap penggal wiracerita dalam suratnya. Sambil menghisap
kretek, amplop surat yang masih tersegel dengan perangko bergambar matryoshka
dan alphabet sirilik. Aku membukanya secara perlahan. Kali ini aku membaca
surat bung Abimana sendiri, karena kawan-kawan yang lain kebetulan ada urusan
di luar. Setelah menyeruput dalam-dalam kopi hitam sebagai instrumen terpenting
selain kretek saat berhadapan dengan bacaan, aku mulai membaca isi surat bung
Abimana.
***
Seperti
biasa, bung Abimana memulai dengan menuliskan kalimat pembuka dengan bahasa
Rusia “длительный срок службы борьбы” yang dalam bahasa
Indonesia dapat diartikan “Panjang Umur Perjuangan.” Pada paragraf pertama bung
Abimana menuliskan tentang bagaimana keadaan semakin sulit untuk melancarkan
sebuah upaya revolusi. Gerak sejarah kapitalisme tampil meliuk-liuk dengan
performa yang senantiasa bergerak mengadaptasikan kebutuhan umat manusia pada
zaman dan situasi lingkungannya, serta mampu menjawab kemungkinan-kemungkinan
keruntuhannya dengan menghadirkan demokrasi ekonomi dan politik sebagai bentuk
keinginan umat manusia yang paling mutakhir, sekalipun itu demokrasi yang semu.
Bahkan saat ini para aktor kapitalisme sengaja berani membiayai dan merekayasa
negara. Tujuannya adalah untuk mengatasi kemungkinan terjadinya disintegrasi
sistem sosial dalam struktur masyarakat yang diakibatkan oleh
kontradiksi-kontradiksi dalam tubuh kapitalisme itu sendiri.
Kemudian
pada paragraf selanjutnya, dengan bahasa yang merepresentasikan kesedihannya,
ia menggambarkan bagaimana kondisi rakyat murba semakin memprihatikan tak ada
lagi tempat meminta bantuan. Mereka bahkan tak berdaya melawan kolaborasi aktor
kapitalisme dengan negara bak kolaborasi tak terkalahkan captain Tsubasa Oozora
dengan Taro Misaki dalam seri manga karangan Yoichi Takahashi. Kaum proletariat
yang menurut Marx, dalam manifesto partai komunis, kelak akan menjadi kelas
revolusioner yang membebaskan, kelas yang nantinya menggenggam hari depan dalam
tangannya, nyatanya masih jauh dari realita.
Sejak
kemajuan teknologi sebagai infrastruktur paling mutakhir membuat nilai tawar
buruh melemah. Hal ini membuat mereka takut menghadirkan perlawanan atas
penghisapan yang mereka alami. Kaum borjuis kecil semakin terdesak ke pinggir
dan tak memiliki daya untuk berbuat. Petani yang tanahnya dirampas lewat
politik perampasan tanah yang dijalankan oleh negara juga tak mampu berbuat
apa-apa dan tak ada waktu baginya untuk menyuarakan haknya sebagai warga negara
sebab ia tetap harus bekerja walau sang tuan tanah memberikan upah yang hanya
cukup untuk membuat ia dan keluarganya tetap hidup esok hari. Para nelayan pun
memiliki cerita yang sama, ia dan keluarganya masih mengalami kekurangan gizi
namun tak sanggup menyuarakan kesengsaraannya sebab diancam bahan bakar sebagai
syarat agar ia tetap dapat berlayar akan dicabut subsidinya ketika ia melakukan
hal demikian. Lalu rakyat miskin kota masih pun tak berdaya melawan aparat
negera dan harus terpaksa menerima kenyataan bahwa tempat tinggalnya harus
digusur.
Lagi dan
lagi mereka pun tidak bisa berontak sebab ia sibuk mencari tempat baru untuk
melindungi bayinya dari panas mentari serta dinginnya angin malam sebelum ia dan
keluarganya betul-betul tak punya tempat lain kecuali liang lahat.
Dalam
paragraf terakhir suratnya, bung Abimana menyampaikan bahwa masih tetap ada
harapan akan terwujudnya kehidupan yang berdiri diatas pondsasi keadilan dan
kesejahteraan bagi rakyat murba. Di sela-sela kesenyapan masih terdapat gaung
bagi suara-suara lirih keluarga korban, penyintas dan mereka yang tertindas.
Yang tersisa itu nantinya akan mengejawantah menjadi sebuah pengingat bahwa
kebenaran belum lagi tuntas diungkapkan, keadilan belum lagi ditegakkan, korban
gusur belum direhabilitasi dan negara masih memalingkan pandangannya maka
mereka akan mengisi penuh setiap ruas jalan, membakar pabrik-pabrik kaum
borjuis dan mengambil alih faktor produksi serta menduduki gedung-gedung
parlemen hingga pada saatnya struktur kekuasaan yang menindas hancur beserta
dengan selingkuhannya. Lalu bung Abimana menutup suratnya dengan kalimat,
“harapan itu ada di tangan mahasiswa.”
***
Di tangan
mahasiswa katanya.
Perkataan
bung Abimana pada kalimat terakhir dalam suratnya layaknya air bah pada zaman
Nuh keras menghujam nalar berpikirku hingga aku tersadar bahwa semua wacana
yang terdapat di dalamnya lenyap seketika tergantikan oleh kalimat terakhir
itu. Pertanyaan akan siapa itu mahasiswa kini memenuhi alam pikirku. Kretek dan
kopi hitam yang sudah habis juga sukses mengembalikan aku pada beranda
kegelisahan. Pertanyaan mengenai siapa itu mahasiswa terus menyeruak dan
berontak untuk mendapat jawaban.
Pertanyaan
tersebut yang mengisyaratkan adanya sebuah jawaban membawaku pada keputusan
untuk meninggalkan rumah dan mencari jawaban atas pertanyaan siapa itu
mahasiswa ─pembawa obor kebebasan bagi rakyat yang dilemahkan─ pada
setiap orang yang aku jumpai.
Dengan
pertanyaan yang semakin besar menundukkan nalarku, aku bergegas mengambil kunci
sepeda motor dan mulai jalan mencari jawaban kepada setiap orang yang dapat
meredam keresahan ku atas pertanyaan besar tersebut. Pikiranku terjatuh pada
warung pak Hardiman selain untuk membeli sebungkus kretek juga karena pak Hardiman
termasuk dalam golongan borjuis kecil. Kendaraan pun aku pacu melewati
lorong-lorong jalan Potlot. Belok kanan di pertigaan Mesjid al-Mukmin lalu
belok kiri setelah lorong ke tiga. Setelah melewati Sekitar 70 meter dari jalan
masuk lorong, aku sampai juga di warung pak Hardiman. Segera aku turun dari
sepeda motor dan menghampiri warung pak Hardiman
“Assalamualaikum.
Pak Hardiman... Pak Hardiman... Pak.” Meski tidak perlu, aku memanggil beliau
dengan agak berteriak.
“Walaikumsalam.
Kenapa kamu teriak-teriak, ada apa Oka?” Sepertinya karena keseringan belanja
di warungnya, pak Hardimanpun tahu namaku.
“Seperti
biasa pak.”
“Ini
rokoknya Oka.” tanpa aku tanya pak Hardiman langsung memberikan rokok sesuai
dengan kemauanku. Sepertinya dia hapal betul apa yang aku inginkan.
“Ini
uangnya pak. O iya pak, aku mau bertanya, bapak kenal atau pernah mendengar
siapa itu mahasiswa?”
Pak
Hardiman dengan raut wajah yang bingung. “Apa? Kamu kerasukan setan apa? Atau
kamu sudah gila yah? Sana, kamu berhenti baca buku-buku filsafat!” mungkin
anaknya yang satu fakultas denganku yang memberitahukan bahwa aku banyak
mengoleksi buku-buku filsafat.
“Wah, Pak
Hardiman bercanda yah? Mana mungkin aku gila. Aku bertanya siapa itu mahasiswa
yang nanti akan memperjuangkan kesejahteraan bapak.” Karena merasa tak mendapat
jawaban, akhirnya aku putuskan beranjak dari tempat Pak hardiman menuju pasar
tradisional di ujung lorong. Pikirku di sana kemungkinan besar aku mendapat
jawaban sebab banyak kaum borjuis kecil berjualan di sana.
Setelah
membakar kretek, aku menyalakan sepeda motor dan melaju menuju pasar yang
jaraknya kurang lebih 50 meter dari warung pak Hardiman. Tak sampai satu menit
aku sudah sampai di pasar. Aku lalu memarkir motor dan selanjutnya berjalan
masuk ke dalam pasar. Setiap orang yang kujumpai, aku jejali mereka dengan
pertanyaan siapa itu mahasiswa.
Mulai dari
pengunjung pasar, para pedagang, satpol PP yang berjaga maupun tukang parkir
tempat aku memarkirkan sepeda motorku. Namun tak satupun di antara mereka yang
memiliki jawaban atas pertanyaanku. Aku malah diusir oleh satpol PP yang
bertugas di situ. Katanya aku mengganggu ketertiban dan kenyamanan pasar.
Kembali
ke parkiran, aku melihat seorang nelayan yang hendak membawa hasil lautnya
untuk dijual di dalam pasar. Segera aku menghampirinya, tanpa basa-basi aku
langsung menyapanya dengan pertanyaan yang menguasai kepalaku.
“Apakah
bapak kenal siapa itu mahasiswa?.”
Dengan
wajah acuh, nelayan itu menjawab, “kamu ngomong apaan? Kamu jangan ganggu aku. Aku
buru-buru sebab ikan yang tak seberapa ini harus segera kujual ke pasar. Kalau
tidak, anak dan istriku mau makan apa? Kamu mau kasih makanan kepada kami? hah
kau ini!.” Nelayan itu langsung pergi meninggalkan aku dengan misteri yang
belum terpecahkan.
Dengan
rasa kecewa bercampur keresahan yang makin menggila serta desakan akan jawaban
siapa itu mahasiswa, kini bersatu padu membajak alam pikirku saat ini. Aku
putuskan meninggalkan pasar dan mencari tempat lain di mana pertanyaan itu bisa
terjawab. Dari ujung lorong aku ambil kiri menuju jalan poros Perjuangan. Lima
menit mengendarai sepeda motor, aku terpaksa berhenti sebab lampu lalu lintas
memberikan isyarat berhenti bagi semua kendaraan yang melaju dari arah
keberangkatanku. Saat menunggu lampu hijau menyala sebagai tanda untuk jalan,
pandanganku tertuju pada sosok lelaki paruh baya dengan seragam lengkap berdiri
tegap sambil memperhatikan lalu lintas. Akupun berpikir menayakan siapa yang
dimaksud oleh bung Abimana pada kalimat terakhir dalam suratnya itu. Ya! Aku
masih penasaran setengah mampus. Lampu hijau pun menyala. Semua kendaraan mulai
melaju secara perlahan tak terkecuali sepeda motorku. Kurang lebih lima belas
meter, aku menghentikan laju kendaran dan memarkirnya persis di depan pos lalu
lintas. Aku berjalan menuju bapak berseragam yang berdiri menghadap ke arah
para pengendara. Dengan sedikit basa-basi, aku kemudian mempertanyakan hal yang
sama kepada bapak ini.
“Assalamualaikum
pak. Bapak mau air minum?”
Dengan
suara datar dan tegas, “terima kasih atas tawarannya, dik. Tapi saya masih
punya. Itu sana di pos.” sambil tangannya menunjuk ke arah pos lalu lintas.
“Mohon
maaf sebelumnya, Pak. Aku mau bertanya, kan bapak sering saya lihat berdiri di
sini, apakah bapak kenal siapa itu mahasiswa atau mungkin bapak pernah
melihatnya melintas di jalan ini?”
“Kamu ini
bodoh, sudah gila atau mau mempermainkan saya. Ya tentulah saya kenal. Kan
mereka yang sering membuat kemacetan di jalan pada saat konvoi atau menutup
jalan pada saat melakukan demo.” Belum sempat bertanya balik karena belum
terlalu detail penjelasan mengenai siapa itu mahasiswa, bapak itu malah pergi.
Ia meniup peluit dan menahan pengendara sepeda motor yang melintas tanpa
mengenakan helm. “Saya sedang sibuk dik, tolong kamu pergi saja.”
Warna
jingga langit sore pertanda sinar matahari mulai kehabisan daya hari ini, namun
tak sejalan dengan kepalaku yang makin mendidih sebab tak kunjung mendapat
jawaban lengkap atas pertanyaanku “siapa itu mahasiswa?”. Pencarian jawaban
kembali aku lanjutkan. Aku kembali mengendarai sepeda motor dan melaju ke arah
jalan veteran. Angin yang bertiup menerpa wajahku sedikit memberikan kesejukan.
Sekitar
setengah jam melaju tak tentu arah demi memuaskan rasa ingin tahuku, aku
singgah sebentar di sebuah warung kecil di samping kedai teh instan. Aku
membeli sebotol air mineral untuk membasahi kerongkonganku yang sedari tadi
terus berciut menyodorkan pertanyaan yang sama. Tak jauh dariku, berdiri dua
orang gadis muda mengenakan seragam putih abu-abu, satunya berambut panjang
digerai dan satunya lagi berjilbab. Tanpa sengaja aku menangkap mereka sedang
melihat-lihat ke arahku. “Lihat apa dik?”
“Eh tidak
ada.”
“Dik,
kalian tahu apa itu mahasiswa?,” mungkin saja dua gadis muda ini bisa menjawab
kebingunganku.
“Mahasiswa?
Pelajar tingkat perguruan tinggi kan?.” Timpal gadis berjilbab.
“Wah, aku
sudah tidak sabar menjadi mahasiswa, datang ke kampus memakai baju bebas, aku
mau kenalan dengan senior-senior cowok yang keren.” Kali ini dari gadis
berambut panjang tergerai. Tidak menunggu sedetik pun, aku segera pergi
meninggalkan kedua anak muda itu. Kacau!
***
Aku mulai
berpikir bahwa bagaimana kalau pertanyaan ini aku tanyakan kepada orang-orang
gila yang ada di rumah sakit jiwa. Sebab dari sekian banyak orang dan semuanya
waras, tak satupun di antara mereka tahu dan bisa memberikan jawaban lengkap
atas pertanyaan aku yang hanya terdiri dari tiga kata. Entah aku yang sudah
mulai gila karena tak kunjung mendapat jawaban tapi tekad aku sudah bulat untuk
mengunjungi salah satu rumah sakit jiwa yang berada di ujung jalan veteran.
Melewati
kemacetan, berhimpit kendaraan. Di atas kendaraan melewati riuh hingar bingar
jalan kota. Sesekali terlintas dalam pikiran ingin menebas lampu lalu lintas
yang menghambat perjalananku sebab harus berhenti seketika lampu merah yang
menyala. Sesampainya di rumah sakit jiwa Sumber Waras, sepeda motor langsung
aku parkir dan langsung bergegas mencari orang gila yang akan aku jajah dengan
pertanyaan siapa itu mahasiswa. Melihat tingkah laku para pasien yang mengalami
gangguan jiwa ini membuat aku refleks tertawa keras dan anehnya mereka balik
tertawa ke arahku seakan mereka semua menertawakanku.
Entah
yang gila di sini siapa, mereka atau aku. Tanpa memperdulikan keadaan mereka
yang tengah mengalami gangguan jiwa, aku menjajakan pertanyaan kepada setiap
pasien yang masih beraktifitas. Namun dari beberapa orang yang aku sodorkan
pertanyaan semuanya malah tertawa tidak jelas entah kenapa sambil
menunjuk-nunjuk ke arahku.
Kretek
kembali aku bakar dengan maksud sedikit menenangkan pikiran. Kepulan asap
kretek aku tenyata menarik perhatian salah satu pasien laki-laki yang kira-kira
berumur 35 tahun. Ia terlihat berjalan mendekat ke arahku.
“Rokok
rokok rokok rokok,” sambil mengangkat tangannya.
“Bapak
mau rokok?”
Ia
mengangguk sambil terus menggumamkan kata yang sama, “rokok rokok rokok rokok.”
“Ini
ambil saja pak. Oh iya, bapak tahu siapa itu mahasiswa? Mereka yang katanya
akan menyeret orang-orang gila di gedung parlemen sana dan membawanya ke sini.
Bapak tahu?”
“Hahaha
hahaha.” Pasien itu hanya tertawa.
“Kenapa
ketawa, Pak? Aku bertanya, apakah bapak tahu siapa itu mahasiswa?” Tanyaku
kembali kepada pasien yang tiada hentinya tertawa.
Seperti
mengejek, ia menjawab seperti ini: “hahahahahaha, kamu sudah gila yah?
Hahahahahaha. Kan kamu itu mahasiswa.” Terus tertawa sambil menunjuk ke arahku,
seakan ingin mengatakan bahwa aku ini orang tidak waras.
“Kamu mau
tahu apa itu mahasiswa?”
Sepertinya
dia memang tahu jawabannya, “iya, Pak, apa itu?”
“Kamu
betul-betul mau tahu mahasiswa itu apa?”, tanyanya lagi dengan tertawa.
“Iya,
Pak, sudah saya bi..”
“Kamu,
mau tahu? Ini jawabanku, Hahaha hahaha.” Bapak pasien sakit jiwa itu tertawa
semakin kencang, berjalan berbalik dengan terhuyung-huyung, meninggalkanku
dengan masih tertawa.
Samata, 5 Maret 2017

