masukkan script iklan disini
![]() |
| ilustrasi: net |
Oleh: Rain
Sepucuk bunga dan sebuah cerita, dari
pagi yang melepas senja dan malam yang merangkul. Masa lalu selalu jadi sejarah
meski tak tercatat dan tersimpan di Museum, biar terbang bersama benih-benih
kecil Dandelion, di bawah awan, di tanah yang berbeda.
Di tepi Sungai Susu, di bawah pohon yang
rindang. Sejuk membawaku bermimpi dengan mata terbuka. Kata Malaikat, di bumi
manusia menyebutnya dejavu. Di dalam mimpi itu, aku melihat sebuah jalan yang
panjang dan disepanjang jalan itu hanya ada rumput-rumput hijau. Aku menelusuri
jalan sampai terlihat seorang lelaki muda menyiram sesuatu disana, aku mendekat
dan kudapati sebuah bunga berwarna kuning, kecil, dan rapuh namun bahagia
dengan air yang membasahi sekujur tubuhnya.
Aku mendengar lelaki muda itu berbicara pada
dirinya sendiri atau mungkin pada bunga itu.
“Aku hanya lelaki pengantar air yang tak
berpendidikan, hanya punya sepeda butut dan perut yang selalu lapar. Entahlah,
siapa pula yang ingin jadi temanku, anak dari keluarga miskin yang
berpenghasilan hanya dari mengantar air.”
“Aku ingin menjadi temanmu.” Sebuah
suara terdengar entah darimana asalnya.
“Aku, jadikan aku temanmu!” Sekali lagi
suara yang sama terdengar, dan kulihat
bunga itu
bergoyang karena tiupan angin. “Aku, makhluk kecil di depanmu,
orang-orang memanggilku Randa Tapak , aku ingin menjadi temanmu. Hei, hei, aku.
Sudahlah kau tak munkin mendengarku, hanya saja kumohon, sudihkah kau datang
lagi untuk menemaniku? Aku sendiri dan kuharap kau akan datang lagi.” Ternyata suara
itu berasal dari bunga di depan Lelaki Muda itu. Sepi dan sepi ketika kau peka
terhadapnya, bahagia akan perlahan-lahan datang dan menemanimu bermain.
Jarum jam menancap gas seakan takut tak
ada lagi hari esok ketika berleha-leha. Sehari bagi Bunga Randa Tapak hanya semenit, meski semenit nampaknya
menjulang kebahagiaan pada dirinya. Setiap hari Lelaki Muda melawati jalan itu,
Ia selalu menyempatkan diri singgah untuk menyiram Bunga Randa Tapak.
“Manusia ketika tidak minum akan mati
kehausan, begitupun denganmu.” Kata Lelaki Muda kepada Bunga Rada Tapak sembari
menyiramnya dengan air dari sebuah botol.
“Aku tak takut kehausan atau kering
sendiri di tepi jalan ini, aku takut ketika kau jenuh dan tak akan datang
lagi.” Kata Bunga Randa Tapak.
Semakin sering Lelaki Muda itu
mengunjungi Bunga Randa Tapak, Bunga Randa Tapak semakin terlihat subur. Sampai
suatu hari, Bunga Randa Tapak mulai merasakan getaran seribu arti dari dalam
dirinya, perasaan yang tak pernah Ia rasakan selama hudupnya. Perasaan itu
datang ketika Lelaki Muda mengunjunginya. Tersipu malu dirinya, seperti seorang
gadis yang sedang berbunga hatinya karena cinta.
Bunga Randa Tapak tak pernah menyadari
bahwa itu adalah rasa cinta, cinta yang rumit untuk terilmiahkan. Harinya habis
menunggu hanya untuk waktu semenit bersama Lelaki Muda.
“Kalau aku terlahir kembali, tolong
Tuhan!... jangan biarkan aku berada di tepi jalan ini dengan wujud ini. Jika
itu mungkin, jadikan aku seperti dia.” Bunga Randa Tapak mulai jenuh dengan
dirinya, Ia memohon beribu kali dalam sehari, betapa menyakitkannya cinta seperti
luka yang tak kunjung kering.
Cintanya semakin tumbuh tiap hari,
semakin menggetarkan. Namun sebuah hal yang memisahkannya dari cintanya adalah
hal terburuk bagi keduanya, KEMARAU panjang di desa mereka tinggal.
Musim hujan dan kemarau adalah sama bagi
Bunga Randa Tapak, sama-sama menunggu untuk seseorang. Namun kemarau ini
membuat Lelaki Muda itu tak pernah lagi mengunjungi Bunga Randa Tapak. Layu
mengrogoti bunga itu, rapuh tak berdaya. Kini bunga itu tak lagi secerah warna
pertama kali terlihat, warnanya berubah putih dan hanya ada sesuatu seperti
bulu disana.
Musim kemarau semakin membakar, yang ada
hanya semilir angin yang berhawa panas menerpa kulit-kulit pohon dan dedaunan
yang kian gugur dari ranting.
“Rindu seharusnya tak sesakit ini, aku
seperti terkurung dalam sebuah tungku dengan bara api.” Bunga Randa Tapak mulai
lemah,tertanda suaranya.
Angin hari itu berhembus kuat, seakan
pohon-pohon yang ada di pinggir jalan itu akan tumbang, hanya hitungan detik,
bulu-bulu yang ada di bunga Randa Tapak terbang. Hanya tinggal sebuah batang
yang rapuh, dan mulai mati karena rindu dan cinta semunya. Tinggal abu dan rasa
penantiannya.
Aku terbangun dari mimpi bodoh itu,
bodoh tapi seperti nyata sekali. Aku mulai bertanya sendiri, darimana asalnya
mimpi itu? Tuhan menjawab rasa penasaran yang bersarang dibenakku. Aku lemas
setelah tahu jawabannya.
Cerita itu ternyata adalah ceritaku semasa
hidup di dunia. Aku menghabiskan waktu untuk mencintai seseorang yang berbeda
denganku, menunggunya dan mati karena sepi. Namun satu hal yang kutahu pasti,
bahwa Ia tak benar-benar meninggalkanku dengan sengaja.
Aku kembali diperlihatkan dengan kilasan-kilasan,
disana aku melihat bulu-bulu Bunga Randa Tapak terbang, hinggap di sebuah
tempat dan tumbuh lagi disana. Bulu-bulu yang terbang itu adalah benih Bunga
Randa Tapak. Aku tak benar-benar mati, aku melahirkan jutaan benih yang tumbuh
di tanah yang berbeda.
Mati akan benar-benar mati tanpa
meninggalkan jejak, tinggalkanlah sesuatu meski hanya sebuah kertas lusuh dan
coretan tinta disana. Tebarkan kehidupan meski kau akan mati, dan bersabarlah
meski hidup berjalan diatas luka, dan mencintailah meski kau tak benar-benar
tahu cinta seperti apa wujudnya.

