Iklan

Cerita dari Surga

Lapmi Ukkiri
07 August 2017
Last Updated 2020-06-23T04:24:28Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini


ilustrasi: net
Oleh: Rain

Sepucuk bunga dan sebuah cerita, dari pagi yang melepas senja dan malam yang merangkul. Masa lalu selalu jadi sejarah meski tak tercatat dan tersimpan di Museum, biar terbang bersama benih-benih kecil Dandelion, di bawah awan, di tanah yang berbeda.

Di tepi Sungai Susu, di bawah pohon yang rindang. Sejuk membawaku bermimpi dengan mata terbuka. Kata Malaikat, di bumi manusia menyebutnya dejavu. Di dalam mimpi itu, aku melihat sebuah jalan yang panjang dan disepanjang jalan itu hanya ada rumput-rumput hijau. Aku menelusuri jalan sampai terlihat seorang lelaki muda menyiram sesuatu disana, aku mendekat dan kudapati sebuah bunga berwarna kuning, kecil, dan rapuh namun bahagia dengan air yang membasahi sekujur tubuhnya.

Aku mendengar lelaki muda itu berbicara pada dirinya sendiri atau mungkin pada bunga itu.

“Aku hanya lelaki pengantar air yang tak berpendidikan, hanya punya sepeda butut dan perut yang selalu lapar. Entahlah, siapa pula yang ingin jadi temanku, anak dari keluarga miskin yang berpenghasilan hanya dari mengantar air.”

“Aku ingin menjadi temanmu.” Sebuah suara terdengar entah darimana asalnya.

“Aku, jadikan aku temanmu!” Sekali lagi suara yang  sama terdengar, dan kulihat bunga itu 
bergoyang karena tiupan angin. “Aku, makhluk kecil di depanmu, orang-orang memanggilku Randa Tapak , aku ingin menjadi temanmu. Hei, hei, aku. Sudahlah kau tak munkin mendengarku, hanya saja kumohon, sudihkah kau datang lagi untuk menemaniku? Aku sendiri dan kuharap kau akan datang lagi.” Ternyata suara itu berasal dari bunga di depan Lelaki Muda itu. Sepi dan sepi ketika kau peka terhadapnya, bahagia akan perlahan-lahan datang dan menemanimu bermain.

Jarum jam menancap gas seakan takut tak ada lagi hari esok ketika berleha-leha. Sehari bagi Bunga Randa Tapak  hanya semenit, meski semenit nampaknya menjulang kebahagiaan pada dirinya. Setiap hari Lelaki Muda melawati jalan itu, Ia selalu menyempatkan diri singgah untuk menyiram Bunga Randa Tapak.

“Manusia ketika tidak minum akan mati kehausan, begitupun denganmu.” Kata Lelaki Muda kepada Bunga Rada Tapak sembari menyiramnya dengan air dari sebuah botol.
“Aku tak takut kehausan atau kering sendiri di tepi jalan ini, aku takut ketika kau jenuh dan tak akan datang lagi.” Kata Bunga Randa Tapak.

Semakin sering Lelaki Muda itu mengunjungi Bunga Randa Tapak, Bunga Randa Tapak semakin terlihat subur. Sampai suatu hari, Bunga Randa Tapak mulai merasakan getaran seribu arti dari dalam dirinya, perasaan yang tak pernah Ia rasakan selama hudupnya. Perasaan itu datang ketika Lelaki Muda mengunjunginya. Tersipu malu dirinya, seperti seorang gadis yang sedang berbunga hatinya karena cinta.

Bunga Randa Tapak tak pernah menyadari bahwa itu adalah rasa cinta, cinta yang rumit untuk terilmiahkan. Harinya habis menunggu hanya untuk waktu semenit bersama Lelaki Muda.
“Kalau aku terlahir kembali, tolong Tuhan!... jangan biarkan aku berada di tepi jalan ini dengan wujud ini. Jika itu mungkin, jadikan aku seperti dia.” Bunga Randa Tapak mulai jenuh dengan dirinya, Ia memohon beribu kali dalam sehari, betapa menyakitkannya cinta seperti luka yang tak kunjung kering.

Cintanya semakin tumbuh tiap hari, semakin menggetarkan. Namun sebuah hal yang memisahkannya dari cintanya adalah hal terburuk bagi keduanya, KEMARAU panjang di desa mereka tinggal.
Musim hujan dan kemarau adalah sama bagi Bunga Randa Tapak, sama-sama menunggu untuk seseorang. Namun kemarau ini membuat Lelaki Muda itu tak pernah lagi mengunjungi Bunga Randa Tapak. Layu mengrogoti bunga itu, rapuh tak berdaya. Kini bunga itu tak lagi secerah warna pertama kali terlihat, warnanya berubah putih dan hanya ada sesuatu seperti bulu disana.

Musim kemarau semakin membakar, yang ada hanya semilir angin yang berhawa panas menerpa kulit-kulit pohon dan dedaunan yang kian gugur dari ranting.

“Rindu seharusnya tak sesakit ini, aku seperti terkurung dalam sebuah tungku dengan bara api.” Bunga Randa Tapak mulai lemah,tertanda suaranya.

Angin hari itu berhembus kuat, seakan pohon-pohon yang ada di pinggir jalan itu akan tumbang, hanya hitungan detik, bulu-bulu yang ada di bunga Randa Tapak terbang. Hanya tinggal sebuah batang yang rapuh, dan mulai mati karena rindu dan cinta semunya. Tinggal abu dan rasa penantiannya.

Aku terbangun dari mimpi bodoh itu, bodoh tapi seperti nyata sekali. Aku mulai bertanya sendiri, darimana asalnya mimpi itu? Tuhan menjawab rasa penasaran yang bersarang dibenakku. Aku lemas setelah tahu jawabannya.

Cerita itu ternyata adalah ceritaku semasa hidup di dunia. Aku menghabiskan waktu untuk mencintai seseorang yang berbeda denganku, menunggunya dan mati karena sepi. Namun satu hal yang kutahu pasti, bahwa Ia tak benar-benar meninggalkanku dengan sengaja.

Aku kembali diperlihatkan dengan kilasan-kilasan, disana aku melihat bulu-bulu Bunga Randa Tapak terbang, hinggap di sebuah tempat dan tumbuh lagi disana. Bulu-bulu yang terbang itu adalah benih Bunga Randa Tapak. Aku tak benar-benar mati, aku melahirkan jutaan benih yang tumbuh di tanah yang berbeda.

Mati akan benar-benar mati tanpa meninggalkan jejak, tinggalkanlah sesuatu meski hanya sebuah kertas lusuh dan coretan tinta disana. Tebarkan kehidupan meski kau akan mati, dan bersabarlah meski hidup berjalan diatas luka, dan mencintailah meski kau tak benar-benar tahu cinta seperti apa wujudnya.



iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl