masukkan script iklan disini
PUISI DAN CERITA KAMPUS
Oleh: Naufal Mahdi
Pagi
yang cerah. Mentari tetap bersinar di ufuk barat. Ya, kalau di timur lain lagi
jadinya. Mungkin dunia ini sudah kiamat kalau seperti itu.
Seperti
biasa ku awali pagiku dengan menghela nafas panjang. Kalau ditimbang-timbang, tak
ada juga gunanya menghela nafas panjang di perkotaan yang padat akan polusi
udara. Tapi setidaknya udara sepagi ini belum terkontaminasi dengan gas knalpot
yang kejam itu.
Adzan
subuh telah berkumandang. Warga kompleks belum juga nampak aktifitasnya. Kulihat
mesjid yang isinya tak lebih banyak dari pada bilangan yang ada pada jam
dinding. Itu sangat memiriskan. Begini juga ternyata jadinya kondisi spiritual
masyarakat perkotaan. Orang bilang, kau hidup di kota berarti kau sejahtera.
Pembual! Tak ada yang sejahtera, pendidikan jasmani mungkin mereka dapat, tapi
pendidikan rohani hampir tak ada. Mau menyalahkan Tuhan, tak mungkin. Terbesit
dalam hati, ini tugasmu! Ah, kepalaku mulai tak menentu. Serasa beban sebagai
khalifah mulai meghantui seluruh komponen diriku. Kenapa juga harus memikirkan
mereka yang tak beribadah. Itu urusan mereka. Mereka sendiri yang akan
pertanggungjawabkan.
Ku
tinggalkan pikiran yang tak menentu itu. Ku baringkan tubuh ini dan ku dengar
dentuman jam dinding mendengung di telingaku. Ku fokusi diri pada jam dinding
tersebut. Ternyata jarum pendeknya sudah terparkir tepat di depan angka
sembilan. Aku terlambat. Perkuliahan sudah dimulai sedari tiga puluh menit yang
lalu.
Belum
lagi ku siapkan pakaianku, ibu sudah meneriakkan suaranya. Bagaikan sangkakala
suara itu memecah ke heningan pagi. Ku cepatkan lagkah kakiku dan bergegas
menuju ke sumber suara, begitupun adik-adikku.
Saat
telapak kakiku mebekas di atas lantai, tertegun mataku menatap secarik kertas di
atas meja kerja dalam kamarku. Kudekati meja itu dengan langkah cepat tak
menentu, mencari tahu apa isi sebenarnya dari kertas tersebut. Memang sudah
lama tak ku buka kamarku yang satu ini. setelah rumah ku direnovasi tak pernah
lagi ku luangkan waktuku untuk memperhatikan isi-isinya. Hari ini ku sempatkan
tubuhku untuk membereskan barang-barang dan pernak-pernik yang ada dalam
kamarku yang satu ini, karena tak lain dari ibuku yang menyuruhku untuk
membersihkannya.
Setelah
ku timbang-timbang, teringat ku pada peristiwa lima tahun silam. Pasti tak lain
dari kertas itu adalah puisi dari mendiang ayahanda. Tiba-tiba rasa penasaranku
hilang setelah ku ketahui diriku sudah terlambat. Ku ambil kertas itu kemudian
bergegas menuju ke kampus.
Setiba
ku di kampus kulihat kawan-kawanku masih terlihat anggun di atas jok motor
mereka. Ku sempatkan diri bertanya soal jadwal hari ini. Dan ternyata jadwal
hari ini dipindahkan pada hari berikutnya.
“Dasar
ketua tingkat!” Ku tendang botol kosong yang ada di depan untuk melampiaskan
amarahku. “Kan bisa di sms, tak ada juga gunanya kau jadi pemimpin kalau hal
yang seperti ini tak bisa kau informasikan”
“Jangan
marah dulu Di” Salah seorang teman mencoba menenangkan amarahku. “mungkin Ardan
sudah mengirimimu pesan, hanya saja tak kau perhatikan baik-baik ponsel mu”
Ku
periksa segala macam kantong yang ku bawa hari ini. Dan memang tak ku dapati
ponselku di situ. Pikiranku mulai kacau. Sampai hal yang sepele begini aku
abaikan. Tak biasanya aku seperti ini. Aku harus menenangkan diri. Ku jalankan
motor, dan bergegas pergi mencari suasana tenang.
Tepat
di lobi fakultas, sambil menghisap rokok, ku timbang-timbang masalah yang
menggangguku hari ini. Ku hisap dalam-dalam asap kejam itu. Dan rasanya
paru-paruku mulai menciut.
Ku
sempatkan mataku menjelajahi sekitar. Ku pusatkan perhatian pada beberapa
aktifitas mahasiswa. Di pojok kanan, mahasiswa organisatoris baru saja memulai
diskusi mereka. Memilukan, mereka tak dapat tempat layak untuk berkembang biak.
Dan di sebelah kiriku, dua wanita saling berbagi derita seputar kehidupan
mahasiswa. Bahwa umur mereka di kampus tidak lama lagi. Ada juga yang berkumpul
membuat kelompok, bagaikan rumput di musim panas, sepertinya mereka kehilangan
semangat hidup. Ah, dunia kampus. Peliharaanmu sungguh tiada yang jelas.
Belum
lagi ku dapat solusi, beban pikiran sudah bertambah sedemikian rupa. Dengan
menimbang-nimbang kondisi mahasiswa saat ini, kudapati sederet pikiran yang
entah benar adanya. Bahwa mahasiswa tak ada bedanya dengan segerombolan hewan
ternak. Mereka di arahkan dengan instruksi-instruksi tidak jelas, jadwal
dipindahkan seenaknya tanpa mereka diberi hak untuk bicara, orang kritis
dibungkam, dipasung mulutnya, dan kalau bisa mereka dicabut akalnya. Bagi yang
mengacau, malaikat izrail akan merenggut status mahasiswanya. Secara tidak
langsung mimpi mereka sudah diatur oleh yang katanya ‘sang maha kuasa’. ‘Maha
kuasa’ hah, konyol sekali. Mereka sebut dirinya penentu kebijakan. Tapi
kebijakan macam apa? Benar-benar konyol. Konyol sekali.
Isapan
rokokku yang kesekian kalinya menghasilkan pikiran seperti ini: para mahasiswa
lah yang membuat keonaran. Mereka tak mau menerima aturan yang telah
ditetapkan. Mereka selalu mencari jalan lain dan menciptakan dunia mereka
sendiri. Padahal kalau mau ditimbang, aturan ataupun sistem yang diberlakukan
di kampus sudah sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Hanya dengan menjalin
hubungan yang romantis dengan para dosen urusan pasti beres. Jadi sumber
masalah memang adalah mahasiswa. Mereka lah yang terlalu menutup diri.
Sumber...
masalah... mahasiswa... tidak! Bukan begini yang ku harapkan. Secara tak
langsung aku sudah lari dari fungsi mahasiswa itu sendiri, agen of change. Ku tak mau menjadi seperti teman-temanku yang kelakuannya
seperti bunglon, bisa merubah warna mereka di mana pun telapak kakinya
berbekas. Kenapa juga pikiranku menjadi ambigu. Siapa sebenarnya yang harus
disalahkan. Yang membuat aturan juga tak pernah melibatkan mereka yang
dibuatkan aturan. Meyalahkan dua-duanya berarti lari dari kenyataan. Rumit! Tak
ada solusi yang ku hasilkan.
Tak
sadar rokok yang ku selipkan di sela-sela jari ku hanya meyisakan puntungnya. Ku
ambil batangan rokok lagi dan membakarnya. Selang beberapa menit kemudian,
salah seorang senior menghampiriku dengan senyum sumrigahnya.
“Minta
rokok Di, boleh?” ia memulai
Tak
sempat bibirku berucap, bungkusan rokokku sudah hilang penghuninya satu.
“Memikir
mereka yang tak pernah memikirkanmu Di? Sepertinya beban mereka kau pikul
sendiri. Akhir-akhir ini kau banyak baca buku perlawanan, apa aku salah?”
Sok
tau! Senior di kampus mana pun perawakannya kurang lebih seperti senior ku yang
satu ini. Tapi ku iyakan juga kata-katanya biar wibawanya tak terganggu.
“Tak
semestinya kau jadikan beban pikiran. Biar kau diskusikan dulu hal yang seperti
ini. Kan sama saya juga bisa” ia hisap rokok yang dirampasnya tadi dan
melanjutkan ceramahnya. Sorotan matanya kini lebih tajam. “Memang kampus tempat
kita berdinamika, tempatnya para calon penerus bangsa memikirkan kembali mimpi
yang telah mereka rangkai sejak dari kecil. Seperti saya ini. Cita-cita yang
telah saya rangkai dulu terpaksa digantikan dengan yang baru. Saya tau, tak
semua orang berpikiran sama seperti saya. Tapi ada hal yang benar-benar harus
dipikirkan ulang sebelum membuat keputusan. Dan ini mutlak adanya. Begitu pun
yang berlaku di dunia kemahasiswaan. Untuk merubah keadaan, musti kau
pikir-pikir dulu masalahnya. Tak boleh kau bertindak gegabah. Jangan sampai kau
bertindak tanpa hasil apa-apa. Kan yang seperti itu kau tak mau kalau terjadi.”
Aku
hanya mengangguk mengiyakan kata-katanya.
Ia
menyeka mukanya. Kemudian meneruskan: “Memang ada sistem yang musti diubah,
tapi ini harus didiskusikan dulu. Coba kau lihat diskusi di sebelah kananmu
itu” aku menoleh, ia pun menoleh. “kegiatan-kegiatan seperti itulah yang harus
dilestarikan. Ibarat bunga, kau harus menyiramnya, merawatnya, dan
menyingkirkan benalu yang menggerogoti bunga itu. Dan ini yang paling penting
Di.” ia menekan kata-katanya yang satu ini “Jangan kau marah dengan mereka yang
apatis, yang tak mau berbuat sesuatu. Kan huhum kausalitas berlaku, kau yang
membela berarti ada yang kau bela. Tak semua orang harus terlibat, iya kan Di?”
Ia
hentikan ceramahnya sambil menepuk pundakku. Kemudian melajutkan: “banyak hal
yang musti kau pelajari. Lain kali kita bertemu lagi. Oh iya, terima kasih
rokoknya” ia ambil lagi rokokku dan kemudian berlari sampai tubuhnya menghilang
dari mataku.
Ah,
ia seperti malaikat jibril saja. Bedanya malaikat jibril tak mengenal rokok.
Mungkin.
Aku
tinggal terdiam. Keheningan tiba-tiba menjajaki tubuhku. Kucoba mengerti
tuturan kalimat barusan yang mendobrak masuk ke akalku. Kepalaku begitu terasa
pusing sekarang. Ku genggam rambutku, sampai kulit kepalaku terangkat dan mulai
memikirkan sesuatu lagi.
Sampai dititik jenuhnya pikiranku. Ku teringat pada secarik
kertas tadi pagi. Ku ambil kertas itu dan mulai membacanya. Kertas itu sudah
usang. Lama tak dibuka. Mungkin aku orang pertama yang membuakanya. Ibuku pun
mungkin tak pernah membuka kertas tersebut.
Setelah
ku baca, kembali kulihat mereka yang berdiskusi. Pertanyaan-pertanyaan kembali
mencul ke permukaan. Mereka ini sebenarnya banyak. Tapi tak bisa berbuat sesuatu.
Dan aku mengerti, bahwa memang harus ada persiapan yang ditempuh sebelum
berbuat. Tapi sampai kapan mereka mempersiapkan itu. Sampai kapan
diskusi-diskusi panjang itu berlangsung. Atau mereka mau menunggu sampai
keadaan benar-benar sudah tak bisa dikendalikan lagi. Ah, mereka juga tak
berguna. Tak mampu menghasilkan jawaban.
Ku lipat kertas itu dan ku masukkan lagi ke dalam kantong
celanaku.
Dan seperti ini isi kertasnya:
Rugi kami mendidikmu
Akhirnya kau pergi dengan alasan beribu
Lihat dirimu sekarang
Tak lebih dari kunang-kunang
Banyak tapi tak mampu menuntun jalan
Akhirnya kau pergi dengan alasan beribu
Lihat dirimu sekarang
Tak lebih dari kunang-kunang
Banyak tapi tak mampu menuntun jalan
Cahayamu redup!
Bukan karena kau tak mampu menerangi
Tapi karena kau enggan untuk bersatu
Bukan karena kau tak mampu menerangi
Tapi karena kau enggan untuk bersatu
Sudahlah!
Sapaanmu hanya perlipur lara
Bukan untuk mengubah keadaan
Melainkan sekedar mempererat keakraban
Sapaanmu hanya perlipur lara
Bukan untuk mengubah keadaan
Melainkan sekedar mempererat keakraban
Suara kami mendengung
Memanggil seperti singa yang meraung
Lalu kau abaikan itu
Dengan alasan tugasmu!
Memanggil seperti singa yang meraung
Lalu kau abaikan itu
Dengan alasan tugasmu!
Gowa,
16 februari 2016
