Iklan

PUISI DAN CERITA KAMPUS

Lapmi Ukkiri
17 September 2016
Last Updated 2020-06-23T04:24:28Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini
PUISI DAN CERITA KAMPUS
Oleh: Naufal Mahdi

Pagi yang cerah. Mentari tetap bersinar di ufuk barat. Ya, kalau di timur lain lagi jadinya. Mungkin dunia ini sudah kiamat kalau seperti itu.
Seperti biasa ku awali pagiku dengan menghela nafas panjang. Kalau ditimbang-timbang, tak ada juga gunanya menghela nafas panjang di perkotaan yang padat akan polusi udara. Tapi setidaknya udara sepagi ini belum terkontaminasi dengan gas knalpot yang kejam itu.
Adzan subuh telah berkumandang. Warga kompleks belum juga nampak aktifitasnya. Kulihat mesjid yang isinya tak lebih banyak dari pada bilangan yang ada pada jam dinding. Itu sangat memiriskan. Begini juga ternyata jadinya kondisi spiritual masyarakat perkotaan. Orang bilang, kau hidup di kota berarti kau sejahtera. Pembual! Tak ada yang sejahtera, pendidikan jasmani mungkin mereka dapat, tapi pendidikan rohani hampir tak ada. Mau menyalahkan Tuhan, tak mungkin. Terbesit dalam hati, ini tugasmu! Ah, kepalaku mulai tak menentu. Serasa beban sebagai khalifah mulai meghantui seluruh komponen diriku. Kenapa juga harus memikirkan mereka yang tak beribadah. Itu urusan mereka. Mereka sendiri yang akan pertanggungjawabkan.
Ku tinggalkan pikiran yang tak menentu itu. Ku baringkan tubuh ini dan ku dengar dentuman jam dinding mendengung di telingaku. Ku fokusi diri pada jam dinding tersebut. Ternyata jarum pendeknya sudah terparkir tepat di depan angka sembilan. Aku terlambat. Perkuliahan sudah dimulai sedari tiga puluh menit yang lalu.    
Belum lagi ku siapkan pakaianku, ibu sudah meneriakkan suaranya. Bagaikan sangkakala suara itu memecah ke heningan pagi. Ku cepatkan lagkah kakiku dan bergegas menuju ke sumber suara, begitupun adik-adikku.
Saat telapak kakiku mebekas di atas lantai, tertegun mataku menatap secarik kertas di atas meja kerja dalam kamarku. Kudekati meja itu dengan langkah cepat tak menentu, mencari tahu apa isi sebenarnya dari kertas tersebut. Memang sudah lama tak ku buka kamarku yang satu ini. setelah rumah ku direnovasi tak pernah lagi ku luangkan waktuku untuk memperhatikan isi-isinya. Hari ini ku sempatkan tubuhku untuk membereskan barang-barang dan pernak-pernik yang ada dalam kamarku yang satu ini, karena tak lain dari ibuku yang menyuruhku untuk membersihkannya.
Setelah ku timbang-timbang, teringat ku pada peristiwa lima tahun silam. Pasti tak lain dari kertas itu adalah puisi dari mendiang ayahanda. Tiba-tiba rasa penasaranku hilang setelah ku ketahui diriku sudah terlambat. Ku ambil kertas itu kemudian bergegas menuju ke kampus.
Setiba ku di kampus kulihat kawan-kawanku masih terlihat anggun di atas jok motor mereka. Ku sempatkan diri bertanya soal jadwal hari ini. Dan ternyata jadwal hari ini dipindahkan pada hari berikutnya.
“Dasar ketua tingkat!” Ku tendang botol kosong yang ada di depan untuk melampiaskan amarahku. “Kan bisa di sms, tak ada juga gunanya kau jadi pemimpin kalau hal yang seperti ini tak bisa kau informasikan”
“Jangan marah dulu Di” Salah seorang teman mencoba menenangkan amarahku. “mungkin Ardan sudah mengirimimu pesan, hanya saja tak kau perhatikan baik-baik ponsel mu”
Ku periksa segala macam kantong yang ku bawa hari ini. Dan memang tak ku dapati ponselku di situ. Pikiranku mulai kacau. Sampai hal yang sepele begini aku abaikan. Tak biasanya aku seperti ini. Aku harus menenangkan diri. Ku jalankan motor, dan bergegas pergi mencari suasana tenang.
Tepat di lobi fakultas, sambil menghisap rokok, ku timbang-timbang masalah yang menggangguku hari ini. Ku hisap dalam-dalam asap kejam itu. Dan rasanya paru-paruku mulai menciut.
Ku sempatkan mataku menjelajahi sekitar. Ku pusatkan perhatian pada beberapa aktifitas mahasiswa. Di pojok kanan, mahasiswa organisatoris baru saja memulai diskusi mereka. Memilukan, mereka tak dapat tempat layak untuk berkembang biak. Dan di sebelah kiriku, dua wanita saling berbagi derita seputar kehidupan mahasiswa. Bahwa umur mereka di kampus tidak lama lagi. Ada juga yang berkumpul membuat kelompok, bagaikan rumput di musim panas, sepertinya mereka kehilangan semangat hidup. Ah, dunia kampus. Peliharaanmu sungguh tiada yang jelas.
Belum lagi ku dapat solusi, beban pikiran sudah bertambah sedemikian rupa. Dengan menimbang-nimbang kondisi mahasiswa saat ini, kudapati sederet pikiran yang entah benar adanya. Bahwa mahasiswa tak ada bedanya dengan segerombolan hewan ternak. Mereka di arahkan dengan instruksi-instruksi tidak jelas, jadwal dipindahkan seenaknya tanpa mereka diberi hak untuk bicara, orang kritis dibungkam, dipasung mulutnya, dan kalau bisa mereka dicabut akalnya. Bagi yang mengacau, malaikat izrail akan merenggut status mahasiswanya. Secara tidak langsung mimpi mereka sudah diatur oleh yang katanya ‘sang maha kuasa’. ‘Maha kuasa’ hah, konyol sekali. Mereka sebut dirinya penentu kebijakan. Tapi kebijakan macam apa? Benar-benar konyol. Konyol sekali.
Isapan rokokku yang kesekian kalinya menghasilkan pikiran seperti ini: para mahasiswa lah yang membuat keonaran. Mereka tak mau menerima aturan yang telah ditetapkan. Mereka selalu mencari jalan lain dan menciptakan dunia mereka sendiri. Padahal kalau mau ditimbang, aturan ataupun sistem yang diberlakukan di kampus sudah sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Hanya dengan menjalin hubungan yang romantis dengan para dosen urusan pasti beres. Jadi sumber masalah memang adalah mahasiswa. Mereka lah yang terlalu menutup diri.
Sumber... masalah... mahasiswa... tidak! Bukan begini yang ku harapkan. Secara tak langsung aku sudah lari dari fungsi mahasiswa itu sendiri, agen of change. Ku tak mau menjadi seperti teman-temanku yang kelakuannya seperti bunglon, bisa merubah warna mereka di mana pun telapak kakinya berbekas. Kenapa juga pikiranku menjadi ambigu. Siapa sebenarnya yang harus disalahkan. Yang membuat aturan juga tak pernah melibatkan mereka yang dibuatkan aturan. Meyalahkan dua-duanya berarti lari dari kenyataan. Rumit! Tak ada solusi yang ku hasilkan.
Tak sadar rokok yang ku selipkan di sela-sela jari ku hanya meyisakan puntungnya. Ku ambil batangan rokok lagi dan membakarnya. Selang beberapa menit kemudian, salah seorang senior menghampiriku dengan senyum sumrigahnya.
“Minta rokok Di, boleh?” ia memulai
Tak sempat bibirku berucap, bungkusan rokokku sudah hilang penghuninya satu.
“Memikir mereka yang tak pernah memikirkanmu Di? Sepertinya beban mereka kau pikul sendiri. Akhir-akhir ini kau banyak baca buku perlawanan, apa aku salah?”
Sok tau! Senior di kampus mana pun perawakannya kurang lebih seperti senior ku yang satu ini. Tapi ku iyakan juga kata-katanya biar wibawanya tak terganggu.
“Tak semestinya kau jadikan beban pikiran. Biar kau diskusikan dulu hal yang seperti ini. Kan sama saya juga bisa” ia hisap rokok yang dirampasnya tadi dan melanjutkan ceramahnya. Sorotan matanya kini lebih tajam. “Memang kampus tempat kita berdinamika, tempatnya para calon penerus bangsa memikirkan kembali mimpi yang telah mereka rangkai sejak dari kecil. Seperti saya ini. Cita-cita yang telah saya rangkai dulu terpaksa digantikan dengan yang baru. Saya tau, tak semua orang berpikiran sama seperti saya. Tapi ada hal yang benar-benar harus dipikirkan ulang sebelum membuat keputusan. Dan ini mutlak adanya. Begitu pun yang berlaku di dunia kemahasiswaan. Untuk merubah keadaan, musti kau pikir-pikir dulu masalahnya. Tak boleh kau bertindak gegabah. Jangan sampai kau bertindak tanpa hasil apa-apa. Kan yang seperti itu kau tak mau kalau terjadi.”
Aku hanya mengangguk mengiyakan kata-katanya.
Ia menyeka mukanya. Kemudian meneruskan: “Memang ada sistem yang musti diubah, tapi ini harus didiskusikan dulu. Coba kau lihat diskusi di sebelah kananmu itu” aku menoleh, ia pun menoleh. “kegiatan-kegiatan seperti itulah yang harus dilestarikan. Ibarat bunga, kau harus menyiramnya, merawatnya, dan menyingkirkan benalu yang menggerogoti bunga itu. Dan ini yang paling penting Di.” ia menekan kata-katanya yang satu ini “Jangan kau marah dengan mereka yang apatis, yang tak mau berbuat sesuatu. Kan huhum kausalitas berlaku, kau yang membela berarti ada yang kau bela. Tak semua orang harus terlibat, iya kan Di?”
Ia hentikan ceramahnya sambil menepuk pundakku. Kemudian melajutkan: “banyak hal yang musti kau pelajari. Lain kali kita bertemu lagi. Oh iya, terima kasih rokoknya” ia ambil lagi rokokku dan kemudian berlari sampai tubuhnya menghilang dari mataku.
Ah, ia seperti malaikat jibril saja. Bedanya malaikat jibril tak mengenal rokok. Mungkin.
Aku tinggal terdiam. Keheningan tiba-tiba menjajaki tubuhku. Kucoba mengerti tuturan kalimat barusan yang mendobrak masuk ke akalku. Kepalaku begitu terasa pusing sekarang. Ku genggam rambutku, sampai kulit kepalaku terangkat dan mulai memikirkan sesuatu lagi.
Sampai dititik jenuhnya pikiranku. Ku teringat pada secarik kertas tadi pagi. Ku ambil kertas itu dan mulai membacanya. Kertas itu sudah usang. Lama tak dibuka. Mungkin aku orang pertama yang membuakanya. Ibuku pun mungkin tak pernah membuka kertas tersebut.
 Setelah ku baca, kembali kulihat mereka yang berdiskusi. Pertanyaan-pertanyaan kembali mencul ke permukaan. Mereka ini sebenarnya banyak. Tapi tak bisa berbuat sesuatu. Dan aku mengerti, bahwa memang harus ada persiapan yang ditempuh sebelum berbuat. Tapi sampai kapan mereka mempersiapkan itu. Sampai kapan diskusi-diskusi panjang itu berlangsung. Atau mereka mau menunggu sampai keadaan benar-benar sudah tak bisa dikendalikan lagi. Ah, mereka juga tak berguna. Tak mampu menghasilkan jawaban.
Ku lipat kertas itu dan ku masukkan lagi ke dalam kantong celanaku.
Dan seperti ini isi kertasnya:

Rugi kami mendidikmu
Akhirnya kau pergi dengan alasan beribu
Lihat dirimu sekarang
Tak lebih dari kunang-kunang
Banyak tapi tak mampu menuntun jalan
Cahayamu redup!
Bukan karena kau tak mampu menerangi
Tapi karena kau enggan untuk bersatu
Sudahlah!                
Sapaanmu hanya perlipur lara
Bukan untuk mengubah keadaan
Melainkan sekedar mempererat keakraban
Suara kami mendengung 
Memanggil seperti singa yang meraung
Lalu kau abaikan itu
Dengan alasan tugasmu!

                                                                                                                                            
                                                                                                          Gowa, 16 februari 2016
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl