masukkan script iklan disini
Ukurannya 1 x
1,5 meter. Tidak begitu mewah. Tempat itu dikelilingi triplek bekas di tiga
sisinya, sementara sisi lain hanya ditutupi sarung bekas yang penuh bercak merah
kehitaman. Merahnya dari bekas koreng yang masih basah lalu dilap. Hitamnya
dari bekas tumpahan kopi yang sudah terlewat naudzubillah min dzalik. Air
menetes sedikit-sedikit, hasil mesin yang sudah meraung sekitar 15 menit
lamanya. Kata om yang depan rumah, dinamonya sudah aus, mau dikorek ulang
katanya. Biasa biayanya mahal, sekitar puluhan ribulah. Tapi apa daya,
jangankan untuk beli mesin air, untuk main PSpun kami tak punya sepeser.
Apalagi untuk makan ayam Isyana depan Puskesmas, yang nikmatnya hanya bisa
dicium jika kami kebetulan lewat berjalan kaki mengambil gorengan jualan tante
yang tak habis dibeli pelanggan setianya.
Pagi itu pukul
setengah 6, bukan pukul 12, karena itu sudah siang namanya. Pagi itu, ditengah
dingin yang masih mengantuk, dihimpit guling dan bantal yang tak lagi empuk,
seorang lelaki hampir baya merasa perutnya berbunyi dengan lengking. Ada
beberapa bunyi simbal yang menyertai, mungkin sisa-sisa sambal dan ubi goreng
semalam yang sudah jadi satu dengan angin dari kipas yang penuh debu. Pedis
terasa perutnya, semacam ada beberapa pohon lombok yang tumbuh di dalam usus
dua belas jarinya. Lama ia memegang perut di atas alas tidurnya. Meraba-raba
sambil menggosokkan minyak angin di sekitar bagian yang merengut. Ia mencoba
mengendalikan otot kanal anusnya agar tak segera mengalir waktu begini.
Sudah lima kali
minyak angin dioles-oleskan, memenuhi segala bagian dari perutnya. Lubang
bawahnya sudah melakukan bukaan pertama, untung isinya masih angin-angin berbau
perih di mata saja. “Belum ikut hardwarenya,”
begitu ia sering dengar jika kawan-kawan diskusi tentang orang kebelet. Entah
itu buang air besar, air kecil, atau nikah. Eh?!
Ia belum mau
beranjak dari tidur, masih di bawah selimut kusamnya yang bergambar penuh
pulau-pulau nusantara berjejalan tak karuan. Bekas liur nikmatnya tidur sejak
bermalam-malam, dari teman-temannya yang tidak mau tahu ini selimut pemberian
kekasihnya yang telah berpulang ke rumah mertua sehabis pesta nikah dengan anak
teman bapaknya yang berhutang tak bisa dibayar. Ini selimut warna kuning tua,
meski menurutnya ia hanya mengenal satu kuning saja, yaitu kuning. Motifnya
bunga-bunga dengan beberapa kupu-kupu terbang berputar di sela dahannya. Tidak
ada kupu-kupu yang tampak singgah di bunga itu, satupun. Mereka sepertinya
sudah meramal sebelumnya, bahwa bunga ini bukan bunga yang baik untuk dihisap
sari madunya. Bahkan mungkin tak ada madu di dalamnya, hanya bekas ubi goreng,
tahu isi atau mie rebus yang dioplos antara satu bungkus Indomie kari ayam dan tiga bungkus Megah
Mie kaldu ayam.
Antara gegap
gempita tabuhan gendang kentutnya, bertalu dengan sedikit nafasnya yang masih
sengal menahan agar kanal itu tak bocor, ia menyalakan mesin air dengan segera.
Mesin berderu, penuh suara bising tanpa
malu. Suaranya persis mesin parut kelapa di pasar-pasar tradisional di kampungnya.
Yang jika sempat pulang kampung, Isal selalu disuruh memarut kelapa untuk ayam
santan kesukaannya. Iya, itu namanya, Isal, kulupa sampaikan dari awal. Maaf,
saya terlalu fokus pada cerita. Kian lama, suaranya kian menderu debu, mirip
diesel yang semakin laun semakin panas. Ia memburu masuk ke bilik 1 x 1,5 itu.
Tidak lupa dinyalakan lampu. Letaknya yang di dalam rumah tak terlalu
menyulitkannya untuk segera masuk tanpa perlu melakukan ritual pakai dan buka
sendal terlebih dahulu.
Setibanya dalam
bilik, ia buka segala penghalang antara lubang kanalnya dan lubang kloset di
bawahnya. Dari sarung, celana jeans yang dipotong pendek hingga celana dalam
yang belum diganti tiga hari lamanya. Posisi siap tempur ia peragakan, sedikit
berjongkok mirip pembeli bakso pinggir jalan, lengkap dengan keringat yang
dilap dengan ujung baju bagian bawah sambil menutup hidung karena tak mau
terlalu menciumnya. Crottt, plung, crott, crott, plung, plung, crotttttt . . .
suaranya nyaris terdengar berirama. Ia membayangkan semua isi perutnya keluar
bersama nyanyian air besar itu. Tak henti-hentinya ia melantunkan irama itu
dari lubang kanalnya yang mulai terasa perih karena dilalui beberapa biji
lombok yang tak habis dicerna dan lupa singgah di umbai cacing. Lama sekali ia
meraung tanpa suara, menahan nafas sambil mnendorong keluar beberapa potongan
lagi. Ia ingin segera mengahiri pertemuan kedua lubang ini. Dua “plung” mendarat manis
di dalam air yang sengaja menggenang dengan tenang, seolah memang diperintahkan
menjaga “plung” agar tak bisa pergi ke mana-mana lagi. Selesai sudah. Begitu
pikir Isal. Pertarungan semenjak tadi diakhiri ssecara adil, skornya imbang 15 “plung”
15 “crottt”.
Diraihnya
gayung. Dikuras habis semua air di gentong keramik punya nenek yang sengaja
ditinggalkan di dalam bilik karena tak ada bak air untuk menampung hasil deruan
mesin. Ia mulai membersihkan kanalnya sesuai anjuran guru mata kuliah Ilmu
Fiqhnya di kampus. Ia sangat suka pelajaran itu, karena ia sedikti ahli dibidang
agama. Menempa diri 3 tahun di pesantren membuatnya terlihat lebih mumpuni
dibanding kawan sekelas seperjuangan. Ia selalu bilang, “Agama itu jalan hidup,
jadi jika kau tak punya agama bagaimana bisa kau menjalani hidup. Kau tak bisa
menumpang di orang lain. Setiap orang dimintai pertanggung jawabannya. Kita
bukan pilot yang diserahi tanggungjawab atas nyawa orang lain. Apalagi sampai
memilih mabuk atau tidak fokus menjalankan pesawat.”
Sesuai anjuran
praktek istinja’, ia memulai segalanya dengan khidmat dan penuh kesadaran.
Dibasuhnya dengan lembut dan rata. Disirami sedikit demi sedikit agar tak ada
sisa-sisa kotoran yang menempel di kulit-kulitnya. Air masih mengalir dengar
lancar, meski sudah mulai berkurang derasnya. Gentong sudah habis banyak untuk melancarkan
jalannya “plung” menuju penampungan terakhir sejak tadi. Isal kini
mengais-ngais air yg sudah tak penuh di gayung. Ia mulai panik. Proses akhir
ritual penuntasan istinja terkendala pasokan air. Ia tak ingat kalau ternyata
mesin air itu hanya sanggup memasok kebutuhan air sampai 15 menit putaran saja.
Selebihnya ia akan menonaktifkan diri sendiri karena merasa dirinya kelewat
panas. Setelah itu colokannya harus dicabut sambil menunggu mesinnya
menenangkan diri. Bisa 15 sampai 30 menit lamanya. ”Mesin itu memang seperti
wanita”, pikirnya, “Cepat marahnya, lambat redanya”.
Dengan ragu, ia
mulai merangsek membuka tirai sarung di depannya. Mencoba melihat ke sisi luar
bilik. Coba-coba jika saja ada yang bisa dimintai tolong untuk menimba air di
sumur sekali ember saja. Mungkin seorang teman alimnya yang baru pulang dari
shalat subuh di mesjid. Atau seorang temannya lagi yang punya jadwal final
lebih cepat dari dibukanya kios dekat bundaran jalan. Atau ada salah satu
kawannya yang baru datang setelah semalaman bermeditasi di warung kopi dengan
akses internet gratis bermodal segelas kopi sambil merevisi skripsi. Tapi belum
ada satupun orang yang ia lihat berlalu lalang atau setidaknya membuka mata
untuk menyatakan siap membantunya mengangkat air dari sumur di belakang rumah. Ia
membatin, lama sekali. Bertanya pada hati dan lubang anusnya yang belum dicuci.
Apakah kita harus bergerak keluar? Menghambur secepat pasukan Amerika Serikat
waktu di Normandia? Memburu keluar sesegera nelayan Lamakera? Ia bimbang dalam
hati. Beberapa masih menempel di kulit bawahnya.
Sampai tiba satu
keputusan. Ia sempatkan bertanya pada sabun yang licin “Bagaimana di luar?
Aman?” Isal harus menyerbu keluar bilik. Segera menuju sumur dengan modal satu
ember keberuntungan. Maka dengan bismilahirrahmanirrahim
dalam hati yang khusyu, ia membuka tirai sarung lalu berlari pelan ke sumur.
Dalam hati ia berkata “Amaannnnn.”
Tak ada yang melihat.
Tapi,
belum sampai di sumur, nenek pemilik rumah kontrakan itu memekik keras.
Ia
memang selalu datang pagi-pagi. Namun itu kadang-kadang, untuk mengecek rumah
atau memetik kemangi di halaman belakang. Nenek itu berteriak keras sekali
sambil bersumpah serapah. Melihat Isal tanpa celana menuju timba. Antara
malu-malu dan ragu-ragu, ia menutup wajah dengan ember di tangannya. Membiarkan
yang dibawah menjadi milik mata nenek seutuhnya.

