Iklan

Bagaimana di luar? Aman?

Lapmi Ukkiri
23 April 2017
Last Updated 2020-06-23T04:24:27Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini

Ukurannya 1 x 1,5 meter. Tidak begitu mewah. Tempat itu dikelilingi triplek bekas di tiga sisinya, sementara sisi lain hanya ditutupi sarung bekas yang penuh bercak merah kehitaman. Merahnya dari bekas koreng yang masih basah lalu dilap. Hitamnya dari bekas tumpahan kopi yang sudah terlewat naudzubillah min dzalik. Air menetes sedikit-sedikit, hasil mesin yang sudah meraung sekitar 15 menit lamanya. Kata om yang depan rumah, dinamonya sudah aus, mau dikorek ulang katanya. Biasa biayanya mahal, sekitar puluhan ribulah. Tapi apa daya, jangankan untuk beli mesin air, untuk main PSpun kami tak punya sepeser. Apalagi untuk makan ayam Isyana depan Puskesmas, yang nikmatnya hanya bisa dicium jika kami kebetulan lewat berjalan kaki mengambil gorengan jualan tante yang tak habis dibeli pelanggan setianya.

Pagi itu pukul setengah 6, bukan pukul 12, karena itu sudah siang namanya. Pagi itu, ditengah dingin yang masih mengantuk, dihimpit guling dan bantal yang tak lagi empuk, seorang lelaki hampir baya merasa perutnya berbunyi dengan lengking. Ada beberapa bunyi simbal yang menyertai, mungkin sisa-sisa sambal dan ubi goreng semalam yang sudah jadi satu dengan angin dari kipas yang penuh debu. Pedis terasa perutnya, semacam ada beberapa pohon lombok yang tumbuh di dalam usus dua belas jarinya. Lama ia memegang perut di atas alas tidurnya. Meraba-raba sambil menggosokkan minyak angin di sekitar bagian yang merengut. Ia mencoba mengendalikan otot kanal anusnya agar tak segera mengalir waktu begini.

Sudah lima kali minyak angin dioles-oleskan, memenuhi segala bagian dari perutnya. Lubang bawahnya sudah melakukan bukaan pertama, untung isinya masih angin-angin berbau perih di mata saja. “Belum ikut hardwarenya,” begitu ia sering dengar jika kawan-kawan diskusi tentang orang kebelet. Entah itu buang air besar, air kecil, atau nikah. Eh?!

Ia belum mau beranjak dari tidur, masih di bawah selimut kusamnya yang bergambar penuh pulau-pulau nusantara berjejalan tak karuan. Bekas liur nikmatnya tidur sejak bermalam-malam, dari teman-temannya yang tidak mau tahu ini selimut pemberian kekasihnya yang telah berpulang ke rumah mertua sehabis pesta nikah dengan anak teman bapaknya yang berhutang tak bisa dibayar. Ini selimut warna kuning tua, meski menurutnya ia hanya mengenal satu kuning saja, yaitu kuning. Motifnya bunga-bunga dengan beberapa kupu-kupu terbang berputar di sela dahannya. Tidak ada kupu-kupu yang tampak singgah di bunga itu, satupun. Mereka sepertinya sudah meramal sebelumnya, bahwa bunga ini bukan bunga yang baik untuk dihisap sari madunya. Bahkan mungkin tak ada madu di dalamnya, hanya bekas ubi goreng, tahu isi atau mie rebus yang dioplos antara satu bungkus Indomie kari ayam dan tiga bungkus Megah Mie kaldu ayam.

Antara gegap gempita tabuhan gendang kentutnya, bertalu dengan sedikit nafasnya yang masih sengal menahan agar kanal itu tak bocor, ia menyalakan mesin air dengan segera. Mesin berderu,  penuh suara bising tanpa malu. Suaranya persis mesin parut kelapa di pasar-pasar tradisional di kampungnya. Yang jika sempat pulang kampung, Isal selalu disuruh memarut kelapa untuk ayam santan kesukaannya. Iya, itu namanya, Isal, kulupa sampaikan dari awal. Maaf, saya terlalu fokus pada cerita. Kian lama, suaranya kian menderu debu, mirip diesel yang semakin laun semakin panas. Ia memburu masuk ke bilik 1 x 1,5 itu. Tidak lupa dinyalakan lampu. Letaknya yang di dalam rumah tak terlalu menyulitkannya untuk segera masuk tanpa perlu melakukan ritual pakai dan buka sendal terlebih dahulu.

Setibanya dalam bilik, ia buka segala penghalang antara lubang kanalnya dan lubang kloset di bawahnya. Dari sarung, celana jeans yang dipotong pendek hingga celana dalam yang belum diganti tiga hari lamanya. Posisi siap tempur ia peragakan, sedikit berjongkok mirip pembeli bakso pinggir jalan, lengkap dengan keringat yang dilap dengan ujung baju bagian bawah sambil menutup hidung karena tak mau terlalu menciumnya. Crottt, plung, crott, crott, plung, plung, crotttttt . . . suaranya nyaris terdengar berirama. Ia membayangkan semua isi perutnya keluar bersama nyanyian air besar itu. Tak henti-hentinya ia melantunkan irama itu dari lubang kanalnya yang mulai terasa perih karena dilalui beberapa biji lombok yang tak habis dicerna dan lupa singgah di umbai cacing. Lama sekali ia meraung tanpa suara, menahan nafas sambil mnendorong keluar beberapa potongan lagi. Ia ingin segera mengahiri pertemuan kedua lubang ini. Dua plung” mendarat manis di dalam air yang sengaja menggenang dengan tenang, seolah memang diperintahkan menjaga “plung” agar tak bisa pergi ke mana-mana lagi. Selesai sudah. Begitu pikir Isal. Pertarungan semenjak tadi diakhiri ssecara adil, skornya imbang 15 “plung” 15 “crottt”.

Diraihnya gayung. Dikuras habis semua air di gentong keramik punya nenek yang sengaja ditinggalkan di dalam bilik karena tak ada bak air untuk menampung hasil deruan mesin. Ia mulai membersihkan kanalnya sesuai anjuran guru mata kuliah Ilmu Fiqhnya di kampus. Ia sangat suka pelajaran itu, karena ia sedikti ahli dibidang agama. Menempa diri 3 tahun di pesantren membuatnya terlihat lebih mumpuni dibanding kawan sekelas seperjuangan. Ia selalu bilang, “Agama itu jalan hidup, jadi jika kau tak punya agama bagaimana bisa kau menjalani hidup. Kau tak bisa menumpang di orang lain. Setiap orang dimintai pertanggung jawabannya. Kita bukan pilot yang diserahi tanggungjawab atas nyawa orang lain. Apalagi sampai memilih mabuk atau tidak fokus menjalankan pesawat.”

Sesuai anjuran praktek istinja’, ia memulai segalanya dengan khidmat dan penuh kesadaran. Dibasuhnya dengan lembut dan rata. Disirami sedikit demi sedikit agar tak ada sisa-sisa kotoran yang menempel di kulit-kulitnya. Air masih mengalir dengar lancar, meski sudah mulai berkurang derasnya. Gentong sudah habis banyak untuk melancarkan jalannya “plung” menuju penampungan terakhir sejak tadi. Isal kini mengais-ngais air yg sudah tak penuh di gayung. Ia mulai panik. Proses akhir ritual penuntasan istinja terkendala pasokan air. Ia tak ingat kalau ternyata mesin air itu hanya sanggup memasok kebutuhan air sampai 15 menit putaran saja. Selebihnya ia akan menonaktifkan diri sendiri karena merasa dirinya kelewat panas. Setelah itu colokannya harus dicabut sambil menunggu mesinnya menenangkan diri. Bisa 15 sampai 30 menit lamanya. ”Mesin itu memang seperti wanita”, pikirnya, “Cepat marahnya, lambat redanya”.

Dengan ragu, ia mulai merangsek membuka tirai sarung di depannya. Mencoba melihat ke sisi luar bilik. Coba-coba jika saja ada yang bisa dimintai tolong untuk menimba air di sumur sekali ember saja. Mungkin seorang teman alimnya yang baru pulang dari shalat subuh di mesjid. Atau seorang temannya lagi yang punya jadwal final lebih cepat dari dibukanya kios dekat bundaran jalan. Atau ada salah satu kawannya yang baru datang setelah semalaman bermeditasi di warung kopi dengan akses internet gratis bermodal segelas kopi sambil merevisi skripsi. Tapi belum ada satupun orang yang ia lihat berlalu lalang atau setidaknya membuka mata untuk menyatakan siap membantunya mengangkat air dari sumur di belakang rumah. Ia membatin, lama sekali. Bertanya pada hati dan lubang anusnya yang belum dicuci. Apakah kita harus bergerak keluar? Menghambur secepat pasukan Amerika Serikat waktu di Normandia? Memburu keluar sesegera nelayan Lamakera? Ia bimbang dalam hati. Beberapa masih menempel di kulit bawahnya.

Sampai tiba satu keputusan. Ia sempatkan bertanya pada sabun yang licin “Bagaimana di luar? Aman?” Isal harus menyerbu keluar bilik. Segera menuju sumur dengan modal satu ember keberuntungan. Maka dengan bismilahirrahmanirrahim dalam hati yang khusyu, ia membuka tirai sarung lalu berlari pelan ke sumur. Dalam hati ia berkata “Amaannnnn.” Tak ada yang melihat.

Tapi, belum sampai di sumur, nenek pemilik rumah kontrakan itu memekik keras.

Ia memang selalu datang pagi-pagi. Namun itu kadang-kadang, untuk mengecek rumah atau memetik kemangi di halaman belakang. Nenek itu berteriak keras sekali sambil bersumpah serapah. Melihat Isal tanpa celana menuju timba. Antara malu-malu dan ragu-ragu, ia menutup wajah dengan ember di tangannya. Membiarkan yang dibawah menjadi milik mata nenek seutuhnya.
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl