masukkan script iklan disini
Pekan literasi merupakan salah satu kegiatan yang
dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Perpustakaan (IP). Tema
dari pekan literasi kali ini: “Apa Jadinya Dunia Tanpa Literasi?”
Menurut penuturan ketua HMJ IP, Abdul Rahmat, tema
ini diambil karena kita tidak bisa lepas
dari yang namanya informasi.
“Peradaban harus selalu dimulai dengan dunia
literasi, yang dalam kajian jurusan kita ini adalah bagaimana cara kita
mendapatkan informasi, kemudian bagaimana cara kita menyebarluaskan informasi
walaupun jika kita kembali ke arti dasarnya hanya menulis dan membaca. Seperti
yang dikatakan oleh Nabi Nuh bahwa di beberapa zaman kedepan, kebutuhan
informasi lebih besar dibandingkan kebutuhan perut, dan itu terbukti sekarang.
Dimana-mana orang-orang mencari informasi. Bayangkan jika orang-orang tidak melek akan
informasi? Jadi itulah mengapa tema ini kami angkat.” ujar Rahmat.
Pekan literasi ini menghadirkan pameran buku, dialog
literasi dan workshop menulis yang dihadiri oleh Maman Suherman atau yang lebih
akrab disapa Kang Maman. Dalam pemaparan materi, Kang Maman mengatakan bahwa
minat literasi Indonesia berada di peringkat 60. Lebih rendah dari Thailand
yang menempati peringkat 59, dan Malaysia diperingkat 53. Apalagi Singapura
yang bertengger diangka 36.
“Ada beberapa indikator, input dan output dari
pendidikan. Mereka lulus tidak buta huruf, tidak buta aksara, tidak buta lisan.
Mereka cuma lolos dalam keaksaraan teknis tetapi tidak memahami apa yang di
baca. Yang kedua, input outputnya mereka harus jadi masyarakat yang fungsional,
mereka menulis tetapi memahami apa yang mereka baca. Yang ketiga, keliterasian
budaya diamana orang menjadikan membaca dan buku menjadi sebagian dari
kebutuhan hidupnya,” tuturnya.
Lanjutnya, beliau mengatakan bahwa budaya literasi
saat ini sudah tinggi, sudah sampai kepada budaya al-qalam, menulis, bukan Cuma
membaca.
“Persoalannya adalah kita abai dalam kondisi itu,
jadi kita tidak punya apresiasi yang tinggi terhadap buku, dan terhadap
perpustakaan. Kita tidak menjadikan itu sebagai kebudayaan, jika hal itu terus
terjadi, maka Indonesia akan terus berada di peringkat 60,” lanjut Kang Maman
yang juga notulen ILK itu.
Kang Maman sendiri sangat mengapresiasi adanya
gerakan-gerakan penggiat literasi yang ada di Makassar dan menjadikan Makassar
sebagai kota literasi.
“Saya angkat topi dengan para penggiat literasi yang
ada di Makassar, dan salah satu wujud yang paling nyata adalah Makassar
International Writer Festival, yang mengkampanyekan ruang terbuka harus menjadi
tempat sebagai ruang baca. Taman-taman sebagai ruang baca, warung kopi sebagai
ruang baca.”
Ada pesan dari Kang Maman untuk para penggiat
literasi, “Jangan jadikan ini sebagai proyek, baru bergerak kalau ada dana.
Karena sedekah adalah 4 huruf, yakni Iqra. Baca. Buku. Sedekah buku itu gratis,
yang dibutuhkan itu adalah gerakan hati. Mereka mau melakukannya karena
terpanggil untuk mengajak orang jadi pintar, berbagi cahaya dengan orang. Dan
percaya sama saya, jika kalian ada di dunia itu (penggiat literasi) kamu akan
mengalami apa yang disebut dalam psikologi, Worm, Glow, Effect. Seperti kamu
yang membuat orang bahagia, tapi yang terjadi kamu yang membahagiakan orang,” kata
Kang Maman.
Editor: Muhammad Naufal Mahdi

