Iklan

Kang Maman: Saya Angkat Topi Dengan Para Penggiat Literasi Yang Ada di Makassar

Lapmi Ukkiri
18 April 2017
Last Updated 2020-06-23T04:33:18Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini
Pekan literasi merupakan salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Perpustakaan (IP). Tema dari pekan literasi kali ini: “Apa Jadinya Dunia Tanpa Literasi?”

Menurut penuturan ketua HMJ IP, Abdul Rahmat, tema ini diambil  karena kita tidak bisa lepas dari yang namanya informasi.

“Peradaban harus selalu dimulai dengan dunia literasi, yang dalam kajian jurusan kita ini adalah bagaimana cara kita mendapatkan informasi, kemudian bagaimana cara kita menyebarluaskan informasi walaupun jika kita kembali ke arti dasarnya hanya menulis dan membaca. Seperti yang dikatakan oleh Nabi Nuh bahwa di beberapa zaman kedepan, kebutuhan informasi lebih besar dibandingkan kebutuhan perut, dan itu terbukti sekarang. Dimana-mana orang-orang mencari informasi. Bayangkan jika orang-orang tidak melek akan informasi? Jadi itulah mengapa tema ini kami angkat.” ujar Rahmat.

Pekan literasi ini menghadirkan pameran buku, dialog literasi dan workshop menulis yang dihadiri oleh Maman Suherman atau yang lebih akrab disapa Kang Maman. Dalam pemaparan materi, Kang Maman mengatakan bahwa minat literasi Indonesia berada di peringkat 60. Lebih rendah dari Thailand yang menempati peringkat 59, dan Malaysia diperingkat 53. Apalagi Singapura yang bertengger diangka 36.

“Ada beberapa indikator, input dan output dari pendidikan. Mereka lulus tidak buta huruf, tidak buta aksara, tidak buta lisan. Mereka cuma lolos dalam keaksaraan teknis tetapi tidak memahami apa yang di baca. Yang kedua, input outputnya mereka harus jadi masyarakat yang fungsional, mereka menulis tetapi memahami apa yang mereka baca. Yang ketiga, keliterasian budaya diamana orang menjadikan membaca dan buku menjadi sebagian dari kebutuhan hidupnya,” tuturnya.
Lanjutnya, beliau mengatakan bahwa budaya literasi saat ini sudah tinggi, sudah sampai kepada budaya al-qalam, menulis, bukan Cuma membaca.

“Persoalannya adalah kita abai dalam kondisi itu, jadi kita tidak punya apresiasi yang tinggi terhadap buku, dan terhadap perpustakaan. Kita tidak menjadikan itu sebagai kebudayaan, jika hal itu terus terjadi, maka Indonesia akan terus berada di peringkat 60,” lanjut Kang Maman yang juga notulen ILK itu.

Kang Maman sendiri sangat mengapresiasi adanya gerakan-gerakan penggiat literasi yang ada di Makassar dan menjadikan Makassar sebagai kota literasi.
“Saya angkat topi dengan para penggiat literasi yang ada di Makassar, dan salah satu wujud yang paling nyata adalah Makassar International Writer Festival, yang mengkampanyekan ruang terbuka harus menjadi tempat sebagai ruang baca. Taman-taman sebagai ruang baca, warung kopi sebagai ruang baca.”

Ada pesan dari Kang Maman untuk para penggiat literasi, “Jangan jadikan ini sebagai proyek, baru bergerak kalau ada dana. Karena sedekah adalah 4 huruf, yakni Iqra. Baca. Buku. Sedekah buku itu gratis, yang dibutuhkan itu adalah gerakan hati. Mereka mau melakukannya karena terpanggil untuk mengajak orang jadi pintar, berbagi cahaya dengan orang. Dan percaya sama saya, jika kalian ada di dunia itu (penggiat literasi) kamu akan mengalami apa yang disebut dalam psikologi, Worm, Glow, Effect. Seperti kamu yang membuat orang bahagia, tapi yang terjadi kamu yang membahagiakan orang,” kata Kang Maman.

Penulis: Rezky Amalia Jumain
Editor: Muhammad Naufal Mahdi
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl