masukkan script iklan disini
LAPMI, UKKIRI’ - Penyelenggaraan Pemilma (Pemilihan Mahasiswa)
di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan siang tadi (14/12) sempat terjadi konflik.
Hal tersebut terjadi karena adanya intervensi dari pihak birokrasi. Salah satunya
ialah adanya perbedaan SK (Surat Keputusan) yang di keluarkan SEMA (Senat
Mahasiswa) dan SK dari pihak birokrasi dalam pemilihan pengurus LPP (Lembaga Penyelenggara Pemilma).
Fahmi, sekertaris LPP Fakultas Tarbiyah dan
Keguruan mengatakan bahwa dengan berbedanya nama-nama yang keluar dari SK itu
sudah menunjukkan adanya permainan. Tidak hanya itu, pembatalan pemungutan
suara terjadi di Jurusan Pendidikan Agama Islam karena terlambatnya surat
panggilan yang diedarkan oleh pengurus LPP. Maka, ada sebagian suara yang tidak
dianggap sah.
"Dalam buku saku kan sudah jelas, SEMA
yang mengusulkan pengurus LPP guna dikeluarkan SK. Namun, yang diusulkan oleh
SEMA tidak sesuai dengan SK yang dikeluarkan oleh pihak Dekan." ungkapnya
Akhirnya pihak birokrasi menghentikan
pemungutan suara dari Jurusan Pendidikan Agama Islam dan masih di proses apakah
akan tetap disahkan atau dilakukan pemungutan suara ulang. Tak hanya itu,
isu-isu tentang penculikan pemegang hak suara juga terdengar. Hal ini
dibenarkan oleh Iyad yang adiknya di "karantina" selama 3 hari.
"Iya benar, dia dikarantina selama 3 hari
dan mereka itu ada 6 orang semuanya berasal dari Jurusan PGMI (Pendidikan Guru Madrasah
Ibtidaiyah). Sampai sekarang saya juga belum tahu siapa yang menjadi penanggungjawab
atas insiden ini." ungkapnya.
Kejadian ini sangat disayangkan oleh mantan Ketua
HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) PGMI,
Samsul Alam, karena insiden ini seharusnya tidak terjadi karena menciderai
sistem demokrasi yang ada.
"Ini artinya ada persaingan yang tidak sehat,
seharusnya tidak ada hal-hal yang tanda kutip seperti penculikan apalagi
orang-orang yang di culik ini semuanya adalah pemegang hak suara dalam
pemilihan." imbuhnya.
Penulis: Rezky Amelia
J
Editor:
Nurhidayatillah
