Iklan

Membangun "Rumah" - Sisterhood Run the World

Lapmi Ukkiri
09 January 2026
Last Updated 2026-01-09T09:12:00Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini

 


Ilustrasi: Pinterest




Oleh: Suci Rahmayani R. Hanapi


Tulisan yang tak seberapa ini merupakan refleksi personal yang lama ditabung dan lebih sering dikonsumsi sendiri. Ia berangkat dari pengalaman tubuh, ingatan, dan perasaan—dari mimpi buruk panjang yang memaksa kembali menengok beberapa tahun ke belakang—menelusuri apa saja yang terjadi selama proses belajar di perhimpunan, khususnya dalam konteks organisasi perempuan. Di sana, aku menemukan dua hal yang berjalan beriringan: rasa tumbuh-berkembang, sekaligus kegelisahan yang semakin mengeras ketika menyadari betapa lapuknya akar kolektivitas yang selama ini kita banggakan.


Pertama-tama, aku ingin membukanya dengan satu argumentasi konseptual: kerentanan perempuan adalah realitas yang begitu kompleks dan kerap tersembunyi di balik lapisan norma social— tak terlepas dari sejarah panjang yang timpang dan memosisikan perempuan menjadi mahluk yang dipahami sebagai entitas tak berdaya. Dalam kerangka ini, kerentanan tidak semata menyangkut kelemahan fisik, melainkan juga kerentanan struktural terhadap ketidakadilan, kekerasan, dan diskriminasi. Sejalan dengan pandangan tersebut, dalam The Vulnerable Subject, Martha Fineman menegaskan bahwa kerentanan bukanlah kondisi individual yang menyimpang, melainkan keadaan universal yang diproduksi dan diperparah oleh sistem sosial yang timpang. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa perempuan tidak pernah “lemah secara alami”, melainkan ditempatkan dalam struktur yang membuat mereka terus-menerus rentan.


Berangkat dari pemahaman ini, respons terhadap kerentanan tidak cukup berhenti pada pengakuan konseptual semata. Dalam situasi seperti ini, aku ingin menawarkan satu metode yang jauh dari frasa ilmiah yang membuat sakit kepala; meskipun ia menjadi poin yang keburu mencapai klimaks ketika dinilai tak pantas ditempatkan di paragraph ketiga: merangkul dan membangun keterhubungan satu sama lain; yang mestinya ia tidak dipahami sebagai gestur sentimental belaka, melainkan sebuah bentuk sikap keberpihakan. Lebih dari itu, ia merupakan upaya konkret untuk bertahan hidup—setidaknya ia akan sampai pada upaya membangun ruang aman bagi diri sendiri dan lingkungan kecil yang kita hidupi. Pada titik inilah, keterhubungan tersebut akan menjelma sebagai fondasi bagi cita-cita panjang gerakan perempuan: membongkar sistem yang membuat kerentanan itu terus-menerus direproduksi.


Selanjutnya, upaya membangun keterhubungan ini tidak dapat dilepaskan dari proses pembentukan kesadaran. Di sinilah aku masih mengamini bahwa kesadaran individu dan kesadaran kolektif saling mengondisikan—tanpa perlu meretas mana yang hadir lebih dahulu. Paulo Freire menyebut proses ini sebagai conscientização, yakni kesadaran yang lahir dari relasi dialogis dan pengalaman bersama. Konsep ini menekankan proses di mana individu atau kelompok mengembangkan kesadaran kritis terhadap realitas sosial, politik, ekonomi, dan kultural yang membentuk kehidupan mereka, serta menyadari posisi mereka di dalam struktur relasi kuasa tersebut Dalam konteks perempuan, proses tersebut kerap menemukan wadahnya melalui pengorganisiran. Oleh karena itu, mencemplungkan diri dalam organisasi perempuan berikut kupahami sebagai cara untuk merawat kesadaran, sekaligus menciptakan ruang aman agar perempuan dapat tumbuh dan berjuang bersama.


Namun, justru pada titik inilah, setelah pengorganisiran dipahami sebagai ruang pembentukan kesadaran dan keterhubungan, kegelisahan yang lebih mendarah-daging pun muncul dan tak terbendung. Di luar kemuakan terhadap relasi patriarki dan kapitalisme yang bekerja di baliknya, aku menyaksikan kenyataan bahwa semakin banyak perempuan yang memilih untuk tidak—atau berhenti—mengorganisir diri, dalam bentuk apa pun. Sekali lagi, aku tidak bermaksud menginterupsi pilihan personal siapa pun. Akan tetapi, yang terasa lebih menyakitkan adalah ketika kawan-kawan perempuan yang sebelumnya bahkan mereka tak memegang satu pun posisi vital (secara stuktural) dalam gerakan; katakanlah mereka juga punya semangat belajar dan berjuang yang sama indahnya, justru menarik diri dari ruang-ruang pengorganisiran itu sendiri, seolah lembaganya yang selalu di-branding dengan kata “rumah”; lembaga yang semestinya menjadi tempat kembali justru tak lagi sanggup menampung mereka.


Jika ditelusuri lebih jauh, fenomena ini sebenarnya sama sekali bukanlah hal yang begitu baru. Ia berakar dari kumpulan pesakitan lama yang menjelma menjadi penyakit akut, lalu dibiarkan begitu lama hingga menjadi lebih parah dan semakin kronis. Dengan menoleh sedikit ke belakang, kita akan menemukan bahwa penyakit ini berasal dari benih kekerasan yang tanpa sadar ditanam oleh sesama perempuan yang berada dalam ruang gerak yang sama. Alih-alih berbenah atas relasi yang dibangun dan pola komunikasi yang selama ini dijalin, respons yang sering muncul lebih dini justru adalah penyalahan, kecaman, cecaran serta forum penghakiman terhadap individu terkait keputusannya untuk berhenti dari organisasi—atau bahkan menjadi sekadar tidak aktif.


Jarang sekali kita menyudikan diri berhenti sejenak untuk bertanya: sudahkah kita benar-benar menjadi ruang aman bagi sesama? Lebih ironis lagi, kegagalan memisahkan pilihan personal dari kepentingan citra arus utama organisasi kerap membuat ketidakberpihakan pada kerentanan perempuan semakin membabi buta, seolah menarik diri dari organisasi adalah bentuk pengkhianatan yang tak termaafkan. Padahal, seperti diingatkan Sara Ahmed dalam Living a Feminist Life, kelelahan, luka, dan rasa tidak aman sering kali justru diproduksi oleh ruang-ruang yang mengklaim dirinya feminist, atau setidaknya mendukung perjuangan pembebasan perempuan. Dengan kata lain, ia bukan hanya soal melawan patriarki di luar, tetapi juga keberanian untuk mengkritik praktik kekerasan yang hidup dan dinormalisasi di dalam gerakan itu sendiri.


Pada level keseharian, persoalan ini tampak jelas dalam cara kita berkomunikasi. Kita terlalu sering menggunakan pola komunikasi yang jauh dari welas asih. Dalam praktiknya, tendensi penyampaian yang tinggi, emosi yang meluap-luap, serta hirarki yang kaku kerap menjadikan organisasi perempuan sebagai ruang yang justru menakutkan. Jauh-jauh hari, Bell hooks mengingatkan bahwa patriarki tidak hanya dijalankan oleh laki-laki, tetapi juga dapat direproduksi oleh perempuan ketika relasi kuasa yang timpang terus dibiarkan bekerja dan dirawat tanpa adanya budaya refleksi secara terus-menerus. Akibatnya, tidak jarang upaya “mengoreksi” sesama perempuan dilakukan bukan untuk memberdayakan, melainkan—sering kali tanpa sadar—untuk menjatuhkan. Lebih parah lagi, ada pula yang memilih untuk mengorganisir sesamanya dan merawat amarah serta kebencian. Bukankan seharusnya kemarahan hanya akan tepat dilampiaskan pada kekuasaan?


Dalam kondisi semacam ini, alih-alih menjadi rumah, organisasi justru berubah menjadi dinding pembatas: siapa yang dianggap benar, siapa yang layak dikawani berjuang, dan siapa yang harus disingkirkan. Dari sini, pertanyaan mendasar pun mengemuka: untuk apa semua itu, jika kita sama-sama mengimani kebebasan sebagai nilai perjuangan?


Padahal, jika ditarik lebih ke hulu, yang kita butuhkan mungkin tidaklah serumit yang sering kita bayangkan. Menurutku, kita hanya perlu menghadirkan kesabaran yang lebih kaya, dada yang sedikit lebih lapang, serta ruang maaf dan pemakluman yang lebih luas. Berikut juga sedikit humor yang lebih hangat jika kita mau. Sebagaimana Audre Lorde pernah menegaskan, perbedaan seharusnya menjadi sumber kekuatan, bukan malah justru menjadi alasan untuk saling melukai. Oleh karena itu, untuk sampai ke titik tersebut, kita perlu membiasakan diri untuk benar-benar terhubung dengan yang lain: meningkatkan ketajaman batin dan daya sensitif agar mampu mengakomodasi pengalaman tubuh, luka, dan emosi yang berbeda-beda.


Pertanyaan tentang keterhubungan ini kemudian membawa kita pada makna yang lebih dalam tentang “rumah”. Bagaimana mungkin sebuah organisasi dapat dipandang sebagai rumah jika rasa aman dan nyaman tak pernah dihadirkan? Dalam pengertian ini, rumah bukanlah ruang yang steril dari konflik, melainkan ruang yang mampu memeluk kerentanan, kekurangan, dan seluruh spektrum emosi sublim manusiawi. Ia menjadi tempat di mana luka bisa diungkapkan dan divalidasi, di mana dukungan tulus menjelma pupuk bagi keberanian yang baru. Tentu saja, mewujudkan rumah yang kumaksud bukanlah perkara mudah, tetapi juga bukan sesuatu yang mustahil—selama kita bersedia menghadirkan pijakan batin yang memungkinkan setiap orang menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi.


Namun demikian, upaya membangun rumah ini tidak semestinya berhenti pada penciptaan ruang aman semata. Keterhubungan personal, sayangnya, kerap disepelekan oleh sebagian orang yang merasa perjuangan harus selalu ditakar melalui eksistensi dan pengabdian material. Padahal, jauh melampaui itu semua, keterkaitan batin justru merupakan senjata yang paling mutakhir dan tak akan pernah bisa disita oleh siapa yang memungkirinya. Dari sanalah, ia perlahan menjelma menjadi fondasi bagi cita-cita perjuangan yang lebih besar. Kesadaran kolektif pun tumbuh: bahwa kerentanan bukan sekadar masalah individu, melainkan persoalan sistemik. Kesadaran inilah yang kemudian akan mengkristal menjadi spirit gerak bersama untuk mewujudkan perubahan.

Pada akhirnya, seluruh refleksi ini bermuara pada satu keharusan: warisan kolot berupa dominasi, superioritas dan maskulinitas toksik harus diretas—meski perlahan. Sebab, membangun dunia tempat di mana kita bisa terus berdansa dan tetap membara adalah dengan keberanian untuk merawat, memulihkan, dan memeluk serta beriringan bersama. Tidak seharusnya mewujudkan dunia yang kita damba dijalani dengan amarah juga berlapis-lapis luka.


Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis!


iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl