![]() |
Penulis : Anonim
Ketika bicara terkait perkaderan, biasanya hal yang terpikirkan adalah ke urusan regenerasi. Urusan cari penerus agar organisasi itu tidak mati. Tapi jujur saja, kalau cuma itu tujuannya, perkaderan tak lebih dari sekadar pabrik yang mencetak robot-robot organisasi. Inti dari perkaderan sebenarnya jauh lebih kompleks, Perkaderan adalah proses "memanusiakan manusia" di dalam wadah organisasi agar mereka punya pola pikir dan perilaku yang sejalan dengan tujuan besar HMI.
Hal yang harus dijadikan refleksi adalah melihat kembali pada bahwa proses perkaderan belum maksimal. Kita masih sering terjebak pada formalitas. Rasa bangga ketika jumlah kader yang mengikuti LK (Latihan Kader) itu banyak, tapi hal yang kadang luput dipertanyakan ialah: apa proses selanjutnya setelah ini?.
Kenapa kader banyak yang apatis? Kenapa mereka seolah "hilang" setelah pengkaderan formal selesai? Jawabannya jelas, Karena selama ini kita belum melakukan proses penyadaran secara masif. Kita lebih sibuk mencekoki mereka dengan materi-materi kaku, tapi lupa memberikan mereka pendekatan secara intuisi.
Hal ini tentu berdampak fatal. Kader HMI akan merasakan bahwa nilai organisasi itu hanya sebatas tempat berkumpul dan poin tambah ketika ditanyakan riwayat organisasi. Nilai islam yang seharusnya menjadi tanggung jawab kader untuk diimplementasikan agar HMI terus hidup akhirnya hanya menjadi sebuah slogan. Mereka tidak merasa “memiliki” dan rasa ”tanggung jawab” karena secara dasar mereka tidak punya pemikiran untuk dapat sampai pada titik itu.
Jika kita berkaca pada kondisi objektif hari ini, sistem perkaderan belum mencapai titik maksimal. Terdapat kesenjangan yang lebar antara kurikulum formal perkaderan dengan internalisasi nilai yang dirasakan oleh kader. Pola aktivitas yang dijalankan untuk membentuk nilai kader belum dilakukan secara masif dan konsisten.
Salah satu gejala yang paling terlihat adalah munculnya sikap apatisme. Banyak kader yang hanya mengejar status administratif namun kehilangan ruh perjuangan. Faktor utamanya adalah kegagalan proses penyadaran. Tanpa adanya fase penyadaran yang fundamental, perkaderan hanya akan menjadi doktrinasi yang membosankan, bukan internalisasi yang menggerakkan.
Kesadaran sebagai kader menjadi Pijakan Awal dalam menjalakan organisasi, Hal yang harus dibedakan antara orang yang "tahu" dan orang yang "sadar". Orang tahu itu banyak. Kader tahu kalau dia punya tanggung jawab, kader tahu kalau HMI organisasi perjuangan, kader tahu kalau HMI itu bernapaskan Islam. Tapi apakah mereka sadar?
Oleh karena itu, diperlukan pembaharuan dalam proses perkaderan agar tetap relevan sebagai daya tarik mahasiswa saat ini tanpa menghilangkan identitas dasar HMI. Salahsatunya yakni membangun ruang dialog yang jujur, memberikan kesempatan bagi kader untuk memotret kondisi zaman, lalu mendiskusikan bagaimana posisi HMI dalam merespons dinamika tersebut. Komisariat harus dikembalikan fungsinya sebagai wadah untuk mendengar setiap ide dan gagasan, sehingga kader merasa dihargai dan memiliki ruang untuk bertumbuh. Langkah penyadaran ini tidak boleh gugur, ia harus dilakukan secara konsisten agar setiap individu dapat menjadi napas yang menghidupkan organisasi, bukan sekadar nama dalam daftar anggota.
Tulisan Sepenuhnya Tanggung Jawab Penulis!!!

