Iklan

Aksara yang Tak Pernah Terucap

Lapmi Ukkiri
01 May 2026
Last Updated 2026-05-01T13:49:44Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini
Foto: Jessica Zahra Usman (Mahasiswi Angkatan 2025, Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Alauddin Makassar/Kader HMI Komisariat Adab).


Penulis: Jessica Zahra Usman


Untukmu, yang namanya selalu menetap di antara doa dan helai napas...


Aku seringkali bertanya-tanya, apakah perasaan ini adalah sebuah anugerah atau justru hukuman yang paling indah? Selama ini, aku memilih menjadi bayang-bayang di belakang punggungmu. Menjadi pendengar yang paling setia saat kau bercerita tentang dunia, tanpa pernah berani menyelipkan satu kalimat pun tentang bagaimana duniamu telah mengubah duniaku. Ada ribuan kata yang tertahan di ujung lidahku setiap kali kita bertukar tatap. Namun, bibirku selalu lebih memilih untuk membeku. 


Ketika aku menatapmu lebih dalam, dunia ini terasa lebih tenang. Entah mengapa, hiruk-pikuk di sekitarku seolah meredup, menyisakan hanya frekuensi keberadaanmu yang menenangkan. Di dalam matamu, aku menemukan sebuah semesta yang tidak butuh penjelasan. Namun, entah mengapa pula, aku tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Lidahku kelu, egoku runtuh, dan keberanianku menguap begitu saja menjadi udara yang sia-sia.


Aku terjebak dalam paradoks yang melelahkan. Di satu sisi, aku ingin kau tahu bahwa namamu adalah kata yang paling sering kuketik di mesin pencari rindu. Di sisi lain, aku sadar bahwa ketidaktahuanmu adalah pelindung terbaik bagi hubungan kita yang sekarang. Aku takut, jika satu saja aksara ini terlepas dari bibirku, ritme tenang yang kita miliki saat ini akan berubah menjadi simfoni yang sumbang. Aku lebih memilih mencintaimu dalam sunyi daripada harus kehilanganmu dalam kenyataan.


Mencintaimu dalam diam itu seperti membaca buku favorit di perpustakaan yang sangat sepi; aku menikmati setiap detailnya, menghafal setiap barisnya, namun aku harus tetap tenang agar tidak diusir oleh keadaan. Aku menghafal bagaimana sudut matamu mengecil saat kau tertawa, bagaimana jemarimu bergerak gelisah saat kau sedang berpikir keras, hingga bagaimana caramu menghela napas saat harimu terasa berat. Semua itu adalah detaildetail kecil yang kusimpan rapat dalam kotak memori, yang kusebut sebagai harta karun paling rahasia.


Seringkali aku bertanya pada malam, sampai kapan aku harus menjadi pemeran fguran dalam hidupmu yang begitu megah? Ada rasa cemburu yang tipis setiap kali kulihat orang lain bisa dengan mudahnya menyapa atau menyentuh bahumu, sementara aku harus menghitung jarak agar tidak terlihat terlalu kentara. Namun, rasa cemburu itu selalu kalah oleh rasa syukur. Syukur karena setidaknya, aku masih diizinkan untuk berada di orbit yang sama denganmu. Menjadi saksi atas keberhasilanmu, dan menjadi tempat teduh yang tak terlihat saat kau merasa lelah. 


Kadang, aku merasa seperti seorang penyelam yang kehabisan oksigen di dasar laut yang paling indah. Aku terpesona oleh kecantikan di sekelilingku—yaitu dirimu—tapi aku juga sesak karena tak bisa bernapas dengan jujur. Aku ingin berteriak bahwa aku ada di sini, dengan perasaan yang sudah meluap-luap hingga ke hulu hati. Tapi yang sampai ke permukaan hanyalah gelembung-gelembung kecil yang pecah sebelum sempat kau lihat.


Mungkin, beberapa orang memang diciptakan hanya untuk menjadi penikmat, bukan pemilik. Mungkin, peranku dalam hidupmu bukanlah sebagai bab utama, melainkan hanyalah catatan kaki yang barangkali kau baca sekilas lalu kau lupakan. Dan jika memang itu garis takdirnya, aku akan mencoba untuk ikhlas. Aku akan terus menuliskan aksara-aksara yang tak pernah terucap ini di atas kertas yang takkan pernah sampai ke tanganmu.


Surat ini adalah saksi bisu bahwa pernah ada seseorang yang mencintaimu dengan begitu hebat tanpa menuntut balasan. Seseorang yang merasa bahwa dunia ini cukup adil hanya dengan melihatmu tersenyum dari kejauhan. Aksara ini tidak akan pernah menjadi suara, ia akan tetap menjadi gema di dalam kepalaku, menjadi rahasia yang kubawa hingga waktu berhenti berputar. Terima kasih telah menjadi bagian paling tenang dalam hidupku yang berisik. 


Terima kasih telah menjadi alasan mengapa aku masih percaya bahwa cinta, sekecil dan sesunyi apa pun itu, tetaplah sesuatu yang layak untuk dirasakan. Biarlah semua ini tetap begini; aku dengan rahasia-rahasiaku, dan kau dengan duniamu yang indah.


(Dari aku, yang mencintaimu dalam diam.)

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl